Posted by: lizenhs | November 21, 2008

Pendidikan Koperasi: Jalan Panjang, Berliku, Naik dan Turun

Pendidikan Koperasi: Jalan Panjang, Berliku, Naik dan Turun

Oleh Haslizen Hoesin

Di Tasikmalaya dicetuskan

            Pendidikan koperasi digagas pada tahun 1946 oleh wakil Persiden RI Mohamad Hatta, dalam konperensi Jawatan Koperasi pertama dipimpin Bapak R. S Soeriatmadja.  Beliau menekankan pendidikan koperasi penting dalam usaha mengembangkan koparasi di Indonesia.  Pak Hatta mengemukakan gagasan ini mungkin di semangati oleh pepatah di ranah tempat dilahirkah yang mengatakan (bila di Indonesia kan) “sesuatu itu ada ilmunya”.  Pada kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya Juli 1947, dicetuskanlah dua ketetapan yaitu: mendirikan pendidikan koperasi dan tanggal 12 Juli dijadikan sebagai hari koperasi. 

 

Bandung Merealisasikan 

           Gagasan mendirikan pendidikan koperasi yang dicetuskan pada kongres koperasi pertama, ditanggapi oleh masyarakat koperasi.  Maka pada Kongres kedua di Bandung tanggal 15 sampai 17 Juli 1953 diputuskan bahwa koperasi menjadi mata pelajaran disekolah lanjutan.

Realisasi keputusan tersebut tanggal 17 Juli 1953, Dewan Koprasi Indonesia (DKI) Jawa Barat mendirikan SMA Koperasi dengan direktur pertama Drs. Suwartoyo.  Tahun 1957 SMA Koperasi oleh Direktorat Koperasi Dept. Perdagangan dilebur menjadi Sekolah Koperasi Menengah Atas (SKOPMA) dan merupakan sekolah kedinasan.  Sekolah dipimpin oleh Kepala Direktorat Kopersi Jawa Barat pada saat itu. Tahun 1964 SKOPMA diintegrasikan ke SMEA yang berpusat di Jalan Wastukencana Bandung.      

 

Akop di Jawa Barat

            Setelah SMA Koperasi dan SKOPMA menghasilkan lulusan, timbul dorongan untuk mendirikan pendidikan koperasi lanjutan di Jawa Barat.  Atas prakarsa Gerakan Koprasi Jawa Barat, 12 Juli 1964 didirikan Akademi Koperasi “12 Juli”. 

           Gagasan terus berkembang, untuk mendirikan pedidikan koperasi setingkat sarjana.  Pada tanggal 12 Juli tahun 1965 dalam MUDAKOP yang saat itu yayasan Badan Pembina AKOP “12 Juli” diketuai oleh H. A. Hirawan Wargahadibrata, gagasan untuk mendirikan pendidikan setingkat sarjana dicetuskan. Melihat semangat Jawa Barat mengembangkan pendidikan koperasi, Akop berdiri pula di beberapa kota lain seperti Makassar, Semarang, Padang dll.

Dari Direktori PTS, tahun 1986, tahun 1990 dan buku Panduan IKOPIN, diketahui bahwa: terdapat 18 pendidikan Koprerasi di Indonesia, 17 program DIII dan 1 Program S1. Di pulau Jawa sebanyak 9 dan 9 diluar Pulau Jawa

Di Pulau Jawa:
Akop 12 JULI Bandung (berdiri 12 Juli 1964, Terdaftar/D.III. dikembangkan menjadi IKOPIN S1)
IKOPIN (7 Mei 1882 Disamakan/S1)
Akop Malang ( berdiri 17 Oktober 1983,Terdaftar/D.III)
Akop Kediri ( berdiri 19 September 1983,Terdaftar/D.III)
Akop Surya, Surabaya ( berdiri 26 Juli 1984,Terdaftar/D.III)
Akop Tantular, Madiun ( berdiri 23 Mei 1986,Terdaftar/D.III)
Akop 17 Agustus 45,  Surabaya( berdiri 23 Mei 1986,Terdaftar/D.III)
Akop Banyuwangi ( berdiri 1986,Terdaftar/D.III)
Akop Semarang ( berdiri 16 Januari 1986,Terdaftar/D.III)

Diluar Pulau Jawa
Akop Palembang (berdiri 1962/84, Terdaftar/D.III)
Akop Ujung Pandang (1965, Terdaftar/D.III )
Akop Barabai (berdiri 15 Agustus 1980, Terdaftar/D.III)
Akop Padang ( berdiri 1981, Terdaftar/D.III)
Akop Kosgoro, Pontianak (berdiri 1981,Terdaftar/D.III )
Akop Bengkulu (berdiri 17 Februari 1984, Terdaftar/D.III)
Akop Riau (berdiri 23 Mei 1987,Terdaftar/D.III )
Akop Graha Karya, Jambi ( berdiri 25 Juli 1987, Terdaftar/D.III)
Akop Mataram ( berdiri 1984, Terdaftar/D.III)

Akop 12 Juli Menuju Perguruan Tinggi

           Gagasan mendirikan pendidikan koperasi setingkat sarjana disambut Gerakan Koperasi Indonesia Jawa Barat (khususnya Induk-Induk Koperasi), bahkan bapak Menteri Muda Urusan Koperasi Bustanil Ariffin.  Dalam kunjungan bapak Menteri Muda Kopersi ke Akop “12 Juli” tanggal 14 Juli 1979 beliau akan membantu pengembangan Akop “12 Juli”.  Tanggal 13 Oktober 1979 pimpinan gerakan koperasi tingkat nasional (Induk-induk Koperasi) mengadakan pertemuan, membahas pengingkatan Akop “12 Juli” menjadi setingkat Universitas/Institut.

           Pertemuan antara pengurus Yayasan Badan Pembina Pendidikan dan Penelitian Koperasi cq Pimpinan Akop “12 Juli” dengan bapak Menteri Muda Urusan Koperasi tanggal 29 September 1981, menghendaki agar Akop “12 Juli” ditingkatkan menjadi Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN) http://www.ikopin.ac.id/ .  Menteri Muda Urusan Koperasi meminta Prof. Dr. Ir. Herman Soewardi memimpin dan menggerakkan peminat dalam bidang perkoperasian dari UNPAD dan Koperasi Jasa Keahlian Teknosa (para alumni ITB) secara pribadi bersama-sama dengan unsur Akop “12 Juli” membentuk panitia persiapan Institut Koperasi Indonesia.  Mereka mulai aktif awal januari 1982.  Pertemuan kelompok kecil pernah dilakukan di jalan Buah Batu dibangunan sekolah yang sekarang jadi SMK.  Kegiatan yang sangat penting saat itu adalah diselenggarakan seminar Nasional Persiapan Institut Koperasi Indonesia, tanggal 10 – 11 Maret 1982 di Jakarta.

           Seminar diikuti oleh tokoh-tokoh gerakan koperasi tingkat nasional dan rektor-rektor serta ilmuwan dari PTN.  Seminar Nasional menghasilkan  (1)  Memberikan kesimpulan, bahwa Institut Koperasi Indonesia perlu dan layak diselenggarakan.  (2)  Sebuah buku yang pupuler disebut di IKOPIN “buku merah” dan  (3) Atribut IKOPIN seperti lagu mars, hymne, lambang, semboyan dan seragam disayembarakan.  Dewan juri diantaranya adalah Prof. Ahmad Sadali, Prof. Dr Didi Atmadilaga, Drh Taufiq Ismail dll. 

 

 Institut Koperasi Indonesia

Dalam “buku merah” dicantumkan struktur IKOPIN http://www.ikopin.ac.id/ , diantaranya unsur pelaksana pendidikan yang terdiri dari lima fakultas yaitu  (1) Fakultas Penjenjanga n Koperasi (non Gelar),  (2) Fakultas Manajemen koperasi (jur. Manajemen keuangan dan Pemasaran),  (3  Fakultas Teknologi Pedesaan (Teknologi Pertanian dan Teknologi Industri).  Fakultas Ilmu Sosial (jurusan Komunikasi dan Sosial Ekonomi Pedesaan) dan  (5)  Fakultas Pasca Sarjana (program  profesi dan program akademik). Mahasiswa Fak. Teknologi praktikum Fisika dan Kimia ke ITB.

 Tanggal 7 Mei 1982 IKOPIN mendapat Izin Opereasional (no. 039/1982) sebagai peningkatan akop 12 Juli Bandung ke dalam Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN).  Tahun 1984 Ikopin mendapat SK Terdaftar (no 0133/0/1984). 

Kurikulum IKOPIN yang pada awalnya berorientasi ke Ekonomi, Sosial dan Teknologi, berdasarkan SK 0637/0/1984 orientasi berubah ke bidang Manajemen. Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN) berubah menjadi Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN) dengan Fak. Manaj. Keuangan (jur. Manaj. Pembelanjaan dan Jur. Manaj. Perbankan), Fak. Manaj. Produksi dan Pemasaran (Jur. Manaj Produksi dan Jur Manaj. Pemasaran) dan Fak. Manaj. Sumber Daya Manusia, (Jur. Manaj. Penyuluhan dan Jur. Manaj. Personalia).  Jurusan Manajemen Produksi berorientasi ke Teknik Industri dengan beberapa perubahan. Pada 23 November 1993 dibuka Program Studi DIII dengan Program Studi Manajemen Keuangan, Manajemen Perbankan dan Manajemen Pemasaran.  Kemudian tahun 2002 membuka Program Studi S2 

Perjalanan IKOPIN mulai tahun 1982 sampai 2015, pimpinan IKOPIN telah terjadi beberapa pergantian.  Saat permulaan didirikan IKOPIN dipimpin oleh Rektorium,  ketua Drs Haryo Soeroso dan wakil Ir Undang Sanurdin.  Rektor IKOPIN telah 6 kali pemilihan, yaitu  Prof. Dr. Herman Soewardi, Prof. Dr. Yuyun Wirasasmita, Prof. Dr. Tuhpawana P. Sendjaja, Drs. Engkos Achmad Koncoro Msi, Prof. Dr. Rully Indrawan dan Dr (HC), Ir. Burhanuddin Abdullah, MA.

  

Tekat IKOPIN

IKOPIN dengan penekanan pada Manajemen mengelola pendidikan dengan sungguh-sungguh dan bertekat memajukan koperasi di Indonesia dengan meteri koperasi antara 10 – 12 SKS, selebihnya manajemen dan kewirausahan.  Pada Program studi Produksi diberikan mata kuliah Teknologi Terapan dan dilengkapi dengan praktikum. Cara yang dilakukan mengelola pendidikan dengan cara: (1)  Mata kuliah dikelompokkan dan pembinaan diserahkan pada program studi dalam bentuk koordinator mata kuliah agar ada keseragaman dan mudah pengendalian proses belajar mengajar.  (2) Dirancang laboratoriun Statistika, Komputer dan Koperasi. 

Laboratorium statistika semula merupakan kegiatan responsi, dikembangkan kedalam bentuk kegiatan yang menyerupai praktikum pada program studi teknik, yaitu mulai dari mengambil/memilih data, memilih dan menetapkan rumus, mengolah data dan menarik kesimpulan.  Praktikum komputer diantaranya membuat program sederhana. Lab. Koperasi, mengolah data koperasi, kemudian menarik kesimpulan.  Kemudian di bentuk Lab. Perbankan, Lab. Manajemen SDM, Lab. Manajemen Pemasaran, Lab. Manajemen Produksi (pada lab. ini terdapat beberapa praktikum diantaranya: Pengendalian Mutu, Manajemen Operasional, Tataletak Pabrik, Teknologi Terapan, Pengetahuan Bahan),  laboratorium Koperasi (Praktikum Manajemen Koperasi dan Manajemen Usaha Kecil). Lab. Komunikasi Bisnis dan Lab. Manajemen Bisnis. Asisten laboratorium sebagian besar adalah mahasiswa yang telah lulus matakulaih yang ada praktikumnya.  Terdapat pula mentoring Agama yang dikoordinir masjid Darul Ikhwan. Nilai praktikum dan Mentoring, masing-masing mempengaruhi nilai mata kuliah (bagian nilai matakuliah karena semuanya telah dikoordinasikan dengan dosen mata kuliah). 

 

Proses Belajar-mengajar dan Mahasiswa 

IKOPIN adalah satu-satunya perguruan tinggi (PT) koperasi di Indonesia setingkat S1, juga PT pertama yang berdiri di suatu bukit di Jatinangor pada tanah seluas 27 ha.  Tahun 1986 semua Program Studi IKOPIN mengikuti agreditasi.  BAN PT 96/97, kemudian BAN PT 97/98, menetapkan Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia dan Manajemen Produksi mendapat akreditasi A (pembina), sedangkan yang lain akrteditasi B.  Pada koran Media Indonesia terbitan 14 Agustus 1999, IKOPIN berada pada urutan ke 33 dari 70 perguruan tinggi terbaik di Indonesia.  Saat itu BAN PT telah mengagreditasi sebanyak  2826 program studi di PTN dan PTS.  Dengan predikat/nilai agreditasi itu, IKOPIN dikunjungi beberapa perguruan tinggi untuk melihat proses belajar-mengajar dan laboratorium dari dekat. 

Bila ditelusuri buku-buku Wisuda IKOPIN, ternyata mahasiswanya berasal dari berbagai daerah dan kota diseluruh provinsi Indonesia mulai dari Nangroe Aceh Darussalam sampai ke Papua, dan Timur Timur (Timur Leste).  Alumni IKOPIN menyebar di Indonesia.  Mereka ada yang membuka usaha sendiri, bekerja di pemda, BUMN, BUMS, dinas koperasi, guru, dosen, membuka pendidikan, kosultan, perbankang (konvensional dan syariah), pegawai swasta, anggota DPR, di Depatemen, Telkom, Transportasi dll.  Terdapat pula sedang dan telah menyelesaikan program S2 dalam dan luar Negeri, S3 di ITB, UNPAD dan Mancanegara. Tidak disangkal pula, terdapat beberapa alumni yang tidak dapat lapangan kerja.  Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi demikian karena mereka telah mendapat pelajaran Wirausaha.

 

IKOPIN di Jatinangor-Sumedang

            IKOPIN dengan Jatinangor seperti sinonim.  Bila menyebut IKOPIN langsung teringat Jatinangor.  Jatinangor mulai dikenal dari peresmian IKOPIN oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto 12 Juli 1984.  Berkikut kedatangan Prof. Dr. Fuat Hasan dan Bustanil Ariffin pada peresmian Perpustakaan dan Laboratoria 3 Mai 1986 dan wakil Presiden Republik Indonesia bapak Sudharmono SH  25 Maret 1989 menyerahkan lulusan IKOPIN ke beberapa Pemda Tk I.  Jatinangor tambah dikenal lagi dengan kebaradaan UNPAD, UNWIM dan IPDN.

           Dari mana sebenarnya muncul nama Jatinangor?  Itulah yang selalu ditanyakan.  Asal-muasal jatinangor dari pohon jati yang tumbuh di belangkang  IKOPIN.  Dahulu di bukit tersebut terdapat kebun karet, sebelumnya kebun teh.  Menurut pak Sadeli dan masyarakat, pohon jati itu sudah ada sebelum kebun karet dan  “Pohon jati itu terlihat muda”. 

Dalam bahasa Sunda jati muda dituturkan (sebut) jati-na-ngora (jati-nya-muda).  Di keseharian karena tidak enak dibaca atau didengar, jatinangora secara sengaja atau tidak, huruf “a” terakhir tidak disebutkan, sehingga “jatinangora” menjadi “jatinangor”.  Mungkin inilah asal-muasal kata Jatingangor yang sekarang menjadi nama suatu daerah di kabupaten Sumedang, dikenal sampai ke mancanegara.

Apa yang tersirat dari kosa kata jatinangor?  “kosa kata Jatinangor memberi arti menghimpun dan menghasilkan benih-benih bermutu tinggi, layaknya mutu jati”.  Mungkin alam memberi pertanda dengan pohon jati muda itu dan benih-benih itu adalah mahasiawa yang tumbuhkembang dan dididik oleh Perguruan Tinggi yang berada di Jatinangor yaitu IKOPIN, UNPAD, UNWIM, STPDN (IPDN) dan ITB. Daerah  Jatinangor sekarang “populer” disebut Kawasan Pendidikan Tinggi Jatinangor

 

Kenapa Diperlukan Pendidikan

           Pendidikan koperasi memang diperlukan untuk mengembangkan koperasi, dasarnya adalah “sesuatu itu ada ilmunya”.  Ilmu itu diperoleh selain pengalaman adalah dari pendidikan.  Jadi dengan pendidikan, calon anggota atau anggota akan mengetahui dan memahami arti kekuasaan tertinggi terletak pada rapat anggota, konsep anggota sebagai pemilik dan pelanggan, sisa hasil usaha, azas kekeluargaan perkoperasi, arti kartu kanggotaan sebagai pelanggan.  Memahami koperasi simpan-pinjam; koperasi pertanian, peternakan dan perikanan, koperasi nelayan, koperasi produsen, koperasi produksi, koperasi jaringan usaha, koperasi energi, koperasi pekerja, koperasi pemasaran (mengelola toko serba ada), koperasi air minum, pengendalian mutu produk, pengadaan bahan baku oleh koperasi, memasarkan produk melalui koperasi, mencari pasar dan memasarkan produk  ke mancanegara.  Mengelola keuangan koperasi, mengelola anggota, memimpin koperasi, berkomunikasi dalam berkoperasi.  Berkoperasi posisi tawar meningkat dan lain-lan. Alumni mendapatkan ilmu itu semua di IKOPIN dan menyampaikannya kepada koperasi dan anggota koperasi dan/atau masyarakat.  Bila tidak memahami maksud/pengertian kata-kata di atas panjang jalan bagi koperasi untuk berkembang, itulah satu dari beberapa tunas alumni IKOPIN. 

           IKOPIN mengembangkan mata kuliah kewirausahaan/kewirakoperasian, dilengkapi dengan praktikum berwirausaha di masyarakat.  Nilai kewirausahaan terbaik adalah dari 60% praktikum dan 40% dari UTS dan UAS.  Selama berwirausaha, mahasiswa dibimbing oleh dosen dan masyarakat yang memiliki jiwa usaha.  Bila mahasiswa selesai mengambil matakuliah tersebut, dapat tetap berwirausaha sendiri atau bergabung dengan membentuk koperasi.  Jadi alumni tidak perlu mencari pekerjaan bila telah selesai pendidikan, malah membuka lapangan kerja.  Banyak orang pendapat, bila ingin jadi pengusaha mulailah selagi mahasiswa.  Bila dimungkinkan saat di sekolah menengah atas. 

 

Koperasi dan IKOPIN

           Pada keadaan sekarang koperasi berada dalam posisi menurun.  Pasang surut koperasi mengimbas juga kepada IKOPIN.  Masyarakat melihat IKOPIN berkorelasi kuat dengan koperasi.  Masyarakat segan putra-putrinya dididik di IKOPIN.  Sebenarnya sikap seperti itu tak perlu terjadi, karena mata kuliah perkoperasian berkisar 10 – 12 SKS.  Mata kuliah di IKOPIN hampir sama dengan Ekonomi bahkan lebih fokus, sedangkan manajemen produksi mirip teknik industri.  Pendidikan di IKOPIN ada plusnya yaitu ilmu koperasi.

 

Keinginan dan Harapan yang Tertunda

           Bila anda bertemu dan bertanya kepada beberapa orang yang pernah aktif dan terlibat langsung dari awal kegiatan mendirikan dan/atau mengajar di IKOPIN.  Ternyata, mereka tetap bercita-cita atau menginginkan IKOPIN tidak hanya mempelajari manajemen saja yang sekarang disebut kekhususan.  Mereka: (1) Berkeinginan ada Fak. Ekonomi, Fak Sosial dan Fak Teknik.  Mereka menyatakan bahwa permasalahan koperasi bukan hanya pada manajemen saja bila ingin mengembangkan koperasi,  (2) Berkeinginan ada hubungan yang lebih dekat dan akrap antara IKOPIN dengan koperasi primer dan UKM,  misal dalam bentuk kerja praktek/magang, skripsi dan pelatihan.  (3) Berkeinginan kerja praktek/magang dan/atau skripsi tidak disekitar kampus, tapi di daerah asal mahasiswa, apakah di koperasi atau di usaha kecil dan menengah

Apakah cita-cita ini dapat direalisir, terletak ditangan Manajemen IKOPIN/Rektor, Yayasan Pendidikan Koperasi, Dekopin dan Menteri Negara Koperasi dan UKM.  Mereka yakin bila ekonomi rakyat menegah kebawah, di perkotaan dan di pedesaan kuat, maka kuat perekonomian negara.  Kalau rakyat tidak memiliki uang dan uang beredar hanya di kota-kota, apakah akan terjual atau terbeli produk yang dihasilkan usaha/industri kecil, menengah dan besar. 

Akankah swasembada beras terulang lagi di Indonesia.  Apakah koperasi ambil bagian dalam usaha swasembada beras.  Jawabannya terletak pada insan koperasi, IKOPIN dan Pemerintah (kebijakan).  

 

Baca juga:

Koperasi Produsen: Apa Itu ……..???  https://lizenhs.wordpress.com/2009/09/02/koperasi-produsen-apa-itu%E2%80%A6%E2%80%A6/

Sendi Dasar Koperasi Produsen  https://lizenhs.wordpress.com/2009/09/02/sendi-dasar-koperasi-produsen/

Koperasi Produksi (Industri)  https://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/koperasi-produksi-industri/

Sistem Keanggotaan Dan Identitas Ganda Koperasi Produksi  https://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/sistem-keanggotaan-dan-identitas-ganda-koperasi-produksi/

Model Partisipasi, Kesejahteraan dan Manfaat Koperasi Produksi  https://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/model-partisipasi-kesejahteraan-dan-manfaat-koperasi-produksi/

Sendi Dasar Koperasi Produksi  https://lizenhs.wordpress.com/2009/11/12/sendi-dasar-koperasi-produksi/

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: