Posted by: lizenhs | November 11, 2012

Keunikan Arsitektur Gedung MPR/DPR RI

Keunikan Arsitektur Gedung MPR/DPR RI

Editor: Hilmi Syatria

Bahan tulisan Keunikan Arsitektur Gedung MPR/DPR RI, diambil dari buku Gedung MPR/DPR RI Sejarah dan Perkembangannya. Buku ditulis oleh: Budhi A. Sukada, Yulius Pour, Hilmi Syatria. Foto: Ahkamul Hakim; Gregorius Antar. Buku yang ditulis oleh beberapa penulis tersebut agar bahasanya mengalir dan enak dibaca, di edit oleh Hilmi Syatria.

Ya…….., Gedung MPR/DPR tidak habis-babis dibahas orang, baik dari sisi Rancangan maupun orang-orang yang beraktifitas didalamnya bahkan sisi ilmiah rancangan gedung seperti konstruksi, tatacahaya, tatasuara dan tata udara (yang dikenal dalam istilah Fisika Bangunan), mengenai Fisika Banguanan, baca tulisan Fisika Banguan, Banguan Apa Ituuu?  Klik disini http://lizenhs.wordpress.com/2011/11/26/fisika-bangunan-bangunan-apa-ituuu/ . Banyak hal yang menarik bila dibaca dari tulisan yang terdapat dalam buku tersebut, kali ini yang ditampilkan/dipilih adalah Keunikan Arsirtektur. Tujuannya, agar masyarakat luas mengetahui awal ide rancangan bangun gedung. Buku tersebut saya (Haslizen Hoesin) peroleh saat bersilaturahim kerumah Hilmi Syatria (editornya) bulan Oktober 2012. Selamat membaca, semoga bermanfaat (Haslizen Hoesin).

Keunikan Arsitektur
Selera memang tidak bisa diperdebatkan, begitu juga dengan keindahan. Apa yang indah bagi seseorang, belum tentu juga indah bagi orang lain. Tetapi, meskipun keindahan sangat relative, ketika Soejoedi Wirjoatmojo Dipl. Ing. merancang kawasan bangunan yang sekarang ini dinamakan gedung MPR/DPR, dia tentu saja berusaha untuk menampilkan sebuah karya yang terbaik. Seperti yang pernah dikemukakan, ketika Soejoedi harus merancang bangun political venues untuk ikut dilombakan, dia melakukanya dengan tergesa-gesa. Rancangan tersebut hanya dipersiapkan tidak lebih dari dua pekan. Bisa dipahami mengapa Soejoedi terburu-buru, karena sebelumnya arsitek ini tak berniat untuk mengikuti seyembara. Namun dengan mendadak Mentri Pekerjaan Umum dan Tenaga menganjurkan untuk ikut.
Tidak mengherankan, karena dimintak dengan mendadak dan secara kebetulan, bahkan mungkin sedang tidak memiliki persiapan dana. Soejoedi terpaksa menjual mobil pribadinya untuk biaya awal pembuatan gambar dan menyusun maket. Dalam situasi serba terburu-buru, ketika gambar dan maketnya hampir selesai masih tersisa bangunan yang belum mempinyai rancanagan atap. Suasana semakin menggelisahkan, karena bangunan yang belum beratap tersebut justru ruang pertemuan utama, induk dari kawasasan kompleks, yang harus dirancangnya.
Sebenarnya ada beberapa alternative bentuk atap. Bentuk paling sederhana dan sudah umum dipakai adalah bentuk dan struktur kubah beton, tergantung pilihan apakah murni, setengah bola atau sebagian dari bola (tembereng bola). Sejak awal Ir Sutami, selaku Struktur engineer telah memperingatkan tim arsitek, bahwa jika diputuskan untuk memakai atap kubah murni bakal muncul masalah serius menyangkut perataan penyaluran beban vertical ketiang-tiang penopang kubah. Satu saja diantara tiang tersebut melorot, akan bisa menimbulkan akibat berantai, seluruh kubah bakal mengalami keretakan, pecah dan akhirnya runtuh berantakan.
Sebagai konsekuensi logis jika rancangan atap memakai kubah murni, seluruh ruang sidang utama harus diberi tambahan balok melingkar besar dan tebal. Penambahan tersebut dipastikan menambah beban berat bagi bangunan kubah. Disamping itu, secara arsitektural, balok melingkar ini akan menjadikan kehadiran barisan tiang-tiang besar mengganggu pandangan dan membawa dampak lanjutan, ikut mengganggu pembagian ruang-ruang sidang dilantai dasar. Dalam berbagai diskusi, Sutami menunjukkan contoh berbagai bangunan gagal karena memakai atap dengan struktur kubah murni.
Ketentuan batas akhir untuk memasukkan rancangan sayembara sudah semakin mendekat. Sehingga dengan terpaksa Ir Nurpontjo, seorang staf Soejoedi yang ditugaskan untuk membikin maket bangunan, tetap merancang atap bangunan utama berbentuk kubah murni. Bahan maket plastic di press diantara dua kuali penggorengan kue serabi yang diisi air panas. Sayang sekali, cara ini tidak berhasil dengan baik karena selalu muncul keriput-keriput persis pada bagian puncak kubah. Sambil setengah putus asa, Nurpontjo mengambil gergaji hasil cetakan segera digergaji, hasil cetakan segera dibelah dua. Ia berharap, kalau kubah dibelah seperti itu, akan ada beberapa potongan yang minimal tidak kelihatan keriputnya, sehingga bisa digabung untuk menjadi kubah utuh.
Dalam suasana kritis, karena esok hari adalah batas waktu penyerahan sayembara, Soejoedi datang dan langsung bertanya pakai bahasa jawa “piye dik, wes rampung” (bagaimana dik, sudah selesai). “Wah susah mas, tak grajine di sik” (wah sulit mas, harus saya gergaji dulu), jawab Nurpontjo. Lalu arsitek Soejoedi melihat dua potongan hasil cetakan yang terletak di atas meja. Tanpa diduga dia malahan berkata: “Lha iki koq apik, apa ngene wae yo atape?” (Lha ini kok malahan bagus, apa begini saja atapnya?). Soejoedi berkata demikian sambil tangannya memegang dan mereka-reka bentuk yang akan terjadi jika potongan-potongan hasil pencatakan dari kuali penggorengan surabi tersebut disatukan, sebagai mana kubah murni terbelah dua yang bagian ujungnya diangkat sedikit, lihat gambar. Kedua arsitek tersebut sama-sama berharap bisa memanfaatkan rancangan bentuk baru ini, Soejoedi segera berujar: “….. tak takon Tami sik” (… saya tanyakan kepada Tami lebih dahulu).kkkkkk
Sutami, sebagai seorang Ir Sipil dan ahli struktur, sangat sigap dalam menjawab dan melakukan perhitungan. Hanya dalam waktu singkat, sesudah langsung membuat berbagai sketsa, dia memberi jaminan: “tidak ada halangan teknis, pokoknya bisa dikerjakan.” Ia menjelaskan, struktur yang akan dibuat ini bakal menghasilakn prisip sama dengan membuat sayap (wing) yang menempel pada badan pesawat terbang, memakai prinsip struktur kantiver. Sutami malah bisa menjamin, dengan bentangan 100 meter pun, bentuk dan strktur tersebut masih bisa dipertanggungjawabkan. Mengingat yang akan berfungsi sebagai baban (fuselage) adalah dua busur beton yang dibangun berdampingan dan nantinya bertemu pada satu titik puncak.
Struktur sepasang busur beton dengan satu titik temu tersebut kemudian harus diteruskan masuk kedalam bumi, untuk bisa menyalurkan beban. Struktur semacam ini merupakan satu kesatuan yang sangat kokoh dan stabil, untuk nantinya bisa dibebani dengan sayap-sayap berukuran dua kali setengah kubah beton. Penambahan tersebut juga bisa ikut membentuk atap bangunan utama seperti sayap burung Garuda. Bentuk semacam ini meskipun sangat unik, tenyata memang tidak pernah diciptakan. Gagasannya justru muncul tidak sengaja. Rancangan Soejoedi dan kawan-kawannya unggul pada komposisi massa. Dalam arti, antara bangunan yang satu dengan yang lain, bentuknya bisa serasi, sekalipun masih tetap terkesan menonjolnya sebuah bangunan utama.
Penutup
Inilah sebuah karya Arsitektur gedung yang belum pernah ada sebelumnya dimanapun dan memang harus diakui keunikannya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: