Posted by: lizenhs | April 16, 2010

PESAN PAK SJAIFUL JAZAN DI TAHUN 73

PESAN PAK SJAIFUL JAZAN DI TAHUN 73

Ditulis Oleh Haslizen dan Syaiful Abbas

Pendidikan
Pak Saiful lahir di Rejai tahun 1913, Tajungpinang. Pandidikan yang ditempuh, HIS di Tanjungpinang, MULO di Bukittinggi, PHS (Prins Hendrik School) di Jakarta. Di PHS ini bahasa pangantar disekolah bahasa Belanda, bahasa wajib Parancis dan Jerman.

Selesai pendidikan bekerja di Jakarta. Saat perang kemerdekaan pulang kekampung. Beliau sempat pula menyeludupkan senjata dari Singapore saat perang kemerdekaan.

Mengajar dan Semangat
Tahun 1949 Pak Sjaiful mengajar di SMA Pemuda Bukittinggi. Sekolah Pemuda ini lama pendidikannya lima tahun sesudah selesai Sekolah Rakyat (setara SD sekarang). Sekolah Pemuda itu setara dengan SMP + SMA. Berhenti mengajar di sekolah Pemuda tahun1954 karena sekolah tersebut bubar.

Sejak tahun 1954 sampai terjadi PRRI bekerja di Padang (perusahaan swasta). Sesudah PRRI sampai 1980 mengajar di SMA PSM dan SMA 1B. Pak Sjaiful tidak bisa diangkat jadi pegawai negeri, karena umur sudah melebihi 40 tahun, saat mendaftar pegawai negeri. Pak Sjaiful Jazan mengajar di SMA I Landbouw bahasa Jerman dan Prancis sebagai guru honorer.

Pada tahun 1972 pak Sjaiful mengikuti pelatihan bahasa Jerman di Guthe Institute Jakarta. Tahun 1980 melatih guru bahasa Jerman.

Sesuatu yang tidak dapat dipercaya bahwa pak Sjaiful bila mengajar ke SMA I Landbouw setiap hari berjalan kaki (dua kali) melitasi janjang Batuang – Ngarai Sianok – Cikkabaubanyak – Bantolaweh dan seterusnya ke SMA I Landbouw. Penduduk Bukittinggi khususnya, kabupaten Agam pada umumnya, mengetahui bahwa jalan melintasi Ngarai itu melewati tangga naik-turun dan sebagian jalan mendaki-menurun. Sejak tahun 1980 bila pulang beliau tidak lagi melewati tangga dan jalan Ngarai, tapi naik angkot di depan Hotel Jogja. Ya, ya……., sungguh hebat semangat pak Sjaiful, patut diteladani.

Pak Sjaiful Jazan wafat 18 Juli 2006 pukul 02.00. Meninggalkan seorang istri asal Kotogadang, nama baliau Nurana dan tiga orang anak yaitu Qamaruzzaman (MT. Ir.), Khalilul Rahman (Prof. dr. SPM (K)) dan Khairul Husni (MBA).

Harapan Kepada Anak Didik dan Pendidik
Pak Sjaiful kepada anak didik berpesan dan berharap, bila selesai SMA sudah bisa berdiri sendiri, walaupun masih dikirimi uang untuk sekolah, tapi tidak tergantung seratus persen dari orang tua. Menurut beliau murid, pelajar dan siswa se awal mungkin (mulai di SD atau SMP, apalagi di SMA) sudah punya arah yang akan dicapai (kata orang, sudah punya yang di cita-citakan atau “mimpi” yang akan menjadi kenyataan dikemudian hari), sesudah itu persiapan-persiapan apa yang akan dikerjakan/dilakukan untuk mencapai cita-cita.

Ya ………, apa artinya. Pak Sjaiful menganjurkan siswa mempersiapkan diri untuk mengadapi masa depan. Menurut pak Sjaiful seorang siswa (SMA) harus punya cita-cita sejak kelas satu kalau tidak ada di SMP. Seorang siswa boleh saja bercita-cita bekerja di bidang kesehatan, maka dia harus mempersiapkan diri mengenai mata pelajaran yang mendukung kearah situ. Siswa lain bercita-cita ingin bekerja di bidang kelistrikan, maka dia mempersiapkan diri untuk mata pelajaran apa yang harus dikuasai agar bisa masuk sekolah teknik berkenaan dengan kelistrikan. Siswa lain bercita-cita bekerja di pertambangan, maka dia harus bertanya kepada orang dibidang tersebut mata pelajaran apa yang mendukung untuk dipelajari. Seorang siswa bercita cita sebagai perencanan pengembangan wilayah, dia bertanya, mata pelajaran apa yang dipersiapkan untuk mencapai cita-cita tersebut. Bercita-cita ingin bekerja di kedutaan (departemen luar negeri), mata pelajaran apa yang mendukung kearah itu. Bercita-cita bekerja di pabrik pesawat terbang, mata pelajaran apa yang dipersiapkan untuk masuk sekolah agar bisa kekerja di pabrik tersebut. Ingin mendirikan usaha agribisnis sekaligus pimpinan usaha terebut, pelajaran apa yang harus dipahami untuk cita-cita tersebut dan kepada siapa saja belajarnya. Ingin mendirikan pabrik mobil, Ingin mendirikan pabrik kapal, Ingin jadi menteri. Ingin jadi Presiden, Pimpinan daerah (guberbur atau bupati), pimpinan perguruan tinggi, pengacara, tentara, dll., begitulah seterusnya.

Mempersiapkan diri mencapai cita-cita ditunjukkan dengan aktifitas/belajar yang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh artinya, dipelajari terlebih dulu, bila tidak mengerti, tanyakan kepada seseorang (teman sekelas dan/atau kakak kelas) sampai mengerti (tuntas) tentang teori dan penyelesaian soal untuk memahami teori. Dengan kata lain mengerti teori dan cara/langkah-langkah penyelesaikan masalah (soal). Berlatih mengerjakan soal adalah satu cara dari berbagai cara untuk memahami teori yang diperoleh di kelas dan/atau belajar sendiri.

Jangan samakan kemampuan anda memahami suatu pelajaran dengan teman (siswa) lain. Bagi seorang siswa mempelajari suatu bahan pelajaran cukup satu jam, bagi siswa lain dua jam, bahkan tiga jam bagi yang lain, untuk mata pelajaran yang sama. Bila belum puas, cari teman untuk tukar pikiran bahkan keguru sekalipun lakukan, itulah yang harus disadari, itulah satu dari beberapa bentuk kegiatan untuk memahami sesuatu, itulah yang disebut dengan kerja keras.

Bila nilai kalian kecil jangan menyalahkan pengajar (orang lain) dengan berbagai istilah yang tidak baik, tapi mengoreksi diri kenapa nilai kecil, kenapa tidak bisa menjawab dengan baik, mungkin belajar masih kurang dan selanjutnya belajar lebih baik lagi. Sikap seperti itulah yang menjadikan seseorang menjadi maju

Mengenai pendidik pak Sjaiful sangat perhatian sekali, terlihat pada kaderisasi pendidik (pengajar) bahasa Jerman dan Prancis. Beliau berharap guru-guru bahasa Jerman dan Prancis selalu meningkatkan kemampuan berbahasa dan menambah pengetahuan tentang bahasa tersebut. Beliaupun bersedia melatih guru-guru bahasa Jerman dan Prancis untuk meningkatkan kemapuan berbahasa dan cara mengajarkan.

Pesan Pak Sjaiful Tahun 73
Ketika kami kelas tiga, mendekati akhir-akhir tahun ajaran, beberapa guru memberikan pandangan, nasehat-nasehat dan memberi semangat yang berguna untuk menentukan pilihan sekolah dan/atau meneruskan hidup. Diantara yang memberikan nasehat itu masih terngiang-ngiang ditelinga sampai sekarang adalah yang disampaikan pak Sjaiful.

Beliau memberikan pandangan ke depan, bagaimana sebaiknya menentukan pilihan untuk melanjutkan sekolah atau kerja/usaha begitu tamat dari SMA.

Pak Sjaiful berkata: “Bila kalian tamat nanti, kalau ingin meneruskan sekolah, lihat dan perhatikan dulu kondisi orang tua kalian……., bagaimana keadaan ekonomi mereka ……, berapa orang adik-adik kalian. Kalau ada kemungkinan rasanya tidak apa kalian meneruskan kuliah ke tingkat sarjana (S1). Tapi kalau tidak….., cukup kalian mengambil DIII saja, supaya kalian bisa dapat kerja dan menolong orang tua”.

Kalau pilihan sekolah beliau berkata: “Untuk kedepan sekolah perhotelan/pariwisata itu bagus, karena negeri kita kaya dengan Budaya dan pemandangan alam kita bagus-bagus dengan kata lain indah”.

Pak Sjaiful selanjutnya berpesan: “Tapi kalau kalian tidak berniat untuk meneruskan pendidikan (sekolah), karena mungkin kondisi keuangan orang tua tidak memungkinkan atau alasan lain. Bila orang tua kalian berdagang jangan kalian ikut berdagang atau menolong di toko/kedai orang tua kalian. Pinjam lah model kepada orang tua, berjualan di kaki lima di dekat toko/kedai orang tua atau ditempat lain. Dalam berusaha sendiri dan kalian harus punya target paling tidak 2 (dua) tahun ke depan bisa mengontrak toko/kedai, sekurang-kurangnya setengah dari ukuran toko/kedai orang tua kalian dan modal pinjaman dari orang tua dapat dikembalikan. Sesudah itu 5 (lima) tahun kedepan kalian harus punya toko/kedai yang sama besarnya dengan toko/kedai orang tua”.

Penutup
Mudah-mudahan tulisan cerita singkat ini bermanfaat, membuka pikiran dan hati, memberi bekal para membaca terutama para siswa SMA; a) tentang semangat sekolah dan bekerja; b) pesan untuk bisa berdiri sendiri (mengurangi ketergantungan terhadap orang tua); c) usaha dan semangat berdiri sendiri; d) persiapan dan dorongan untuk mencapai impian (cita-cita) yang harus dicapai; e) kapan cita-cita itu mulai ditanamkan seawal mungkin dan selalu ditegaskan kembali setiap tingkat pendidikan.

Mengenai cita-cita, pak Sjaiful berpesan mulailah dicetuskan dari SD, bila belum terbayang saat SD saat di SMP. Bila belum terbayang di SMP, tidak boleh tidak ada cita-cita saat di SMA.

Begitulah nasehat pak Sjaiful. Rasa-rasanya nasehat tersebut masih dapat dipakai dan aktual sampai sekarang, terutama bagi pelajar atau siswa yang sedang menempuh pendidikan di SMP apalagi di SMA untuk mempersiapkan masa depan.

Bahan tulisan: Qamaruzzaman, para siswa pak Sjaiful dan rantaunet.

Baca juga:
Suasana dan Semangat Balajar di Tahun Bagolak: Kasus di Bukittinggi pada kategori Jejak “Masa Lalu”
SIAPA DIBELAKANG “GREAT WALL of KOTO GADANG” (GWoKG). http://lizenhs.wordpress.com/2013/04/26/siapa-dibelakang-great-wall-of-koto-gadang-gwokg/

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: