Posted by: lizenhs | March 22, 2010

Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB

Tata Suara (Akustik) Masjid: Kasus Masjid Salman ITB

Oleh: Haslizen Hoesin

Sebuah ruangan yang akan digunakan untuk ceramah, khutbah dll, yang diutamakan adalah kenyaman pendengaran. Bila berbicara mengenai kenyamanan pendengaran, itu berarti membahas tata suara (akustik) di ruang tertutup. Lebih spesifik lagi adalah menata penempatan pengeras suara (“speaker”). Tiga hal lain yang berkaitan dengan kenyamanan dalam ruangan adalah pencahayaan, suhu dan aliran udara. Pencahayaan, suhu dan aliran udara keketiganya saling terkait. Paparan berikut ini penekanan pada tatasuara.

KENYAMAN PENDENGARAN DALAM RUANGAN

Diperlukankah kenyaman pendengaran dalam ruangan? Suatu pernyatakan dari kebanyakan orang bahwa kenyamanan pendengaran tidak begitu menjadi masalah. Itu yang sering dijumpai. Walau bagaimanapun, bila ingin mendengar lebih jelas dari suatu yang disampaikan melalui pengeras suara, kejelasan kata perkata itulah jang diutamakan. Paparan berikut ini adalah kenyamanan pendengaran pada ruang dalam masjid. Pembahasan mengenai Tatasuara, Ukuran Kekerasan Baku Bunyi, Rumus-rumus Tatasuara dan Pengeras Suara.

Tatasuara

Suatu ruangan bila digunakan untuk ceramah, yang harus diperhatikan adalah tekanan suara, gaung dan gema. Bila berbicara mengenai gaung dan gema, yang dibahas adalah pantulan suara oleh suatu benda atau permukaan ruangan. Bila tekanan suara yang dibahas adalah kekerasan suara pada suatu titik.

Tingkat tekanan suara (Sound Presure Level – SPL) adalah kekerasan suara pada suatu titik tertentu. Tingkat tekanan suara tambah jauh dari sumber bertambah lemah (tidak terdengar). Ukuran dari tingkat kekerasan (tekanan) bunyi/suara adalah desible (dB).

Waktu Dengung – WT (Reverberation Time – RT) atau lama berdengung adalah lama energi suara atau bunyi bertahan terdengar dalam ruangan, setelah sumber bunyi dihentikan. Pengertian lain adalah waktu (jangka waktu) yang dibutuhkan oleh suara dalam suatu ruangan untuk berkurang/turun sebesar 60 dB. Jangka waktu bunyi bertahan dalam ruangan terjadi karena pantulan suara dari dinding, lantai dan langit-langit yang berkali-kali. Waktu dengung dipengaruhi oleh volume ruangan, luas bidang dari ruang serta koefisien serap bahan didalam ruangan.

Waktu dengung sering sekali dijadikan acuan dalam merancang tata suara ruangan. Waktu dengung yang lama, berarti energi satu kata belum habis, kata baru datang lagi dan seterusnya dan pantulan suara juga tidak berhenti selama sumber suara belum berhenti sampai kalinat itu selesai. Waktu dengung yang panjang (lama), berakibat pada kata perkata (ucapan) terdengar tidak jelas. Apa yang disampaikan tidak akan terdengar atau tidak bisa ditangkap dengan baik. Gaung terjadi karena dipantulkan berkali-kali, akibatnya suara kedengaran tidak jelas. Gema terjadi karena gelobang bunyi/suara yang dipantulkan satu atau dua kali.

Bila waktu dengung kecil (mendekati nol) dalam suatu ruangan, sedangkan kekerasan suara mencukupi, pengerasa suara tidak diperlukan. Bila pengeras suara tetap digunakan berarti pemborosan energi listrik. Bila waktu dengung panjang (lama), perlu diturunkan dengan cara memasang penyerap suara. Pengeras suara diperlukan bila tingkat kekerasan suara lemah.

Terdapat beberapa cara menempatkan pengeras suara dalam ruangan ceramah, diantaranya

Pertama. Di depan di atas pedium, bertujuan agar perhatian dan pendengar terpusat kearah pembicara/penceramah. Karena suara harus dari arah pembicara (depan), pengeras suara (loudspeaker) tidak baik mengarah dari belakang kedepan (kearah pembicara) atau dari samping (dinding kiri-kanan) kearah tengah apalagi kedepan. Penempatan penegeras suara seperti demikian akan membuyarkan perhatian pendengar. Buyar perhatian karena:

Terdengar suara dari ada dua arah sumber atau lebih, dengan kecepan berbeda untuk kata yang sama, sehingga kata tersebut sampai ditelinga pendengar lebih dari satu kali (tidak jelas kata yang diucpkan) atau, terjadi penguatan yang berbeda dari kata yang sama karena penjumlahan gelombang suara dari dua arah sehingga terjadi penguatan atau terjadi pelemahan atau daerah tuli, karena gelombang suara satu kata saling meniadakan, jadi tidak dapat mendengarkan pembicaraan, semua kejadian itu akan tidak nyaman pada pendengaran.

Kedua. Di dinding kiri dan kanan mengarah kebelakang, diperlukan bila kuat suara lemah dari sumber utama (dari depan). Pengeras suara ditempatkan di dinding kiri-kanan, mengarah pada titik-titik dimana suara itu lemah.

Ketiga. Merata diseluruh ruangan, karena tidak diperlukan pemusatan perhatian dari arah pembicara.

Untuk khutbah dan ceramah tentu yang diperlukan pemusatan perhatian maka cara pertama yang dipilih. Bila kurang tekanan suara pada tempat-tempat tertentu baru ditambah dengan cara kedua.

Ukuran Kekerasan Baku Bunyi

Ukuran baku (standar) kekerasan sumber bunyi untuk suatu kegiatan adalah sebagai berikut: Berbisik tingkat kekerasan 10 dB; berbicara 40 – 60 dB; dan sepeda motor 70 – 90 db. Bunyi melebihi 90 dB bisa merusak telinga, apalagi didengar 1 jam atau lebih secara terus-menerus.

Rumus-rumus Tata Suara

Rumus-rumus menentukan waktu dengung dan tekanan suara dalam ruangan ceramah, pada perencanaan tatasuara yang berkaitan dengan waktu dengung dan tekanan suara pada satu, dua titik atau lebih diantaranya.

Penyerapan (Absorbtion)

Penyerapan rata-rata @ = (S@s)/Stotal …. (1)

Penyerapan total @T = @ (rara-rata) + m (4V/S) …. (2)

dengan m adalah konstanta penyerapan udara.

Jarak bebas rata-rata L = (4V)/S …. (3)

Waktu Dengung

T = (0.161v)/{S[ – 2.3 log (1 – @T)] + 4mv}…. (4)

dengan: v = volume ruang (m3), S = luas permukaan (m2), m = konstanta penyerapan (atenuasi) media dan @T = koefisien penyerapan rata-rata.

Tingkat tekanan suara (SPL – sound presure level)

Untuk menghitung tekanan suara pada suatu titik dilantai rumus-rumus yang digunakan adalah rumus-rumus Kinsler (1962) dan Berlian (1964).

Suara diterima oleh satu titik dari satu sumber

SPL = 10 log wi + 10 log r0c + 10 log( Q/4piR2 + 4/R) – 10 log Peff2 … (5)

Suara diterima oleh satu titik, lebih dari satu sumber.

SPL = 10 log wi + 10 log r0c + 10 log[(w1Q1/4piR1 + w2Q2/4piR2+ …….. + wnQn/4piRn) +4(w1+w2 + …….. + wn )/R] – 10 log Peff2 …. (6)

dengan: R = jarak terjauh dari sumber bunyi (m), w = daya sumber dari sumber bunyi (dB), r0c = karakteristik impedensi dari udara mks rayls pada suhu tertentu. Misal pada 220 C dan 751 mmHg, r0c = 26.1 dB. r0 adalah konstanta ro nol. R = S@(rata-rata)/(1 -@rata-rata) konsatanta ruangan, @ Penyerapan rata-rata, Q sumber bunyi. piR2 adalah pi R kuadrat. pi = 3.14.

Pengeras Suara

Pengeras suara (“loudspeaker”) pada ruangan untuk ceramah agar sesuai dengan tekanan suara yang di kehendaki, dirangkai beberapa pengeras dalam bentuk kotak persegi panjang atau corong. Menurut Beranek (1954), untuk mendapatkan tekanan suara tertentu, dapat diperoleh dengan merangkai sejumlah speaker, kemudian disusun pada kotak. Rangkaian speaker dapat seri, paralel atau gabungan keduanya sesuai dengan perhitungan. Susunan “speaker” dalam kotak balok rancangan Beranek dijadikan acuan menyusun pengeras suara di Masjid Salman.

Untuk mengukur tekanan suara pada ketiggian tertentu di atas di lantai digunakan cara yang dikemukanan Brocher (1971).

KERJASAMA RANCANGAN RUANG DALAM MASJID

Bila ingin tata suara dalam ruangan baik di mana pengeras suara tidak digantung atau ditempel disana-sini, maka rancangan ruang dalam (interior) harus telah tergambar dalam otak (benak) pemilik bangunan (atau yayasan pengelola masjid). Yayasan berkata: “saya mau tatasuara begini dan ruang dalam begitu dll”. Pada pertemuan awal gagasan itu dikemukakan dan dibahas dengan perancang (arsitektur). Gambar angan-angan pemilik dituangkan dalam bentuk sket (rancangan sederhana) pada selembar kertas. Bila rancangan akustik dan penerangan/pencahayaan buatan (lampu) terintegrasi pada saat perancangan, maka kabel pengeras suara (speaker) dan lampu tidak kelihatan bergelantungan atau ditempel di dinding dan di langit-langit masjid.

Pada rancang bentuk dalam ruangan (dinding, lampu, lubang cahaya dan lubang udara) juga dikemukakan, karena tidak kalah pentingnya dari rancangan tampak luar, sebab rancangan dalam akan mempengaruhi kenyamanan jamaah saat shalat, mendengar khutbah dan ceramah. Kenyaman itu meliputi komponen kenyamanan pendengaran, pencahayaan, suhu dan aliran udara, berarti rancangan bangunan masjid dirancang bersamaan dengan rancangan tatasuara, tatacahaya dan tata udara sejak awal rancangan. Kenyamanan dalam ruangan dan rancangan luar bagunan akan menghasilkan rancangan masjid secara menyeluruh (terintegrasi).

Bila tidak secara menyeluruh maka akan terjadi tambal sulam. Inilah yang sering terjadi di banyak Masjid, di mana pengeras suara di tempel atau di gantung di beberapa tempat, demikian pula kipas angin, sehingga keindahan terganggu. Malahan lampu digantung atau ditempel disana-sini maka dari sisi tata suara menimbulkan gema, gaung dan bising atau waktu dengung menjadi lama dalam ruangan.

Karena tidak memanfaatkan penerangan alami lampu dinyalakan, udara jadi hangat, kipas pun dinyalakan, berkibat pemakaian energi meningkat.

Sesuatu yang menarik bila tatasuara tidak bagus (jelek), yang disalahkan rancangan tata suara atau penempatan pengeras suara atau saling tuding antara perencanaan interior dengan tatasuara bahkan melibatkan tata cahaya dan tata udara.

Pertama. Pernyataan yang tepat adalah perancangan ruangan ini tidak baik, karena tidak ada kerjasama antara perancangan tatasuara dengan perancangan ruangan.

Kedua. Pemilik bangunan (yayasan) masjid tidak menekankan kepada perencana bahwa ruangan ini nanti untuk ceramah secara tegas. Artinya menyatakan kepada perancang bangunan, bahwa perencanaan tatasuara harus dimasukkan dari awal perencanaan bersamaan dengan perancangan dalam ruangan (interiur). Tidak boleh pemilik bangunan (yayasan) atau para arsitektur berkata itu bisa dilakukan belakangan. Pedapat inilah yang menjadikan tatasuara dalam ruangan tidak nyaman.

Ketiga. Harus diingat jamaah datang ke masjid selain untuk shalat adalah mendengarkan khutbah atau ceramah yang jelas untuk diresapi dabawa pulang, diamalkan dan disampaikan kepada orang lain.

Sering pula terdengar celetuk jamaah, sayang ya, masjid bagus begini, tapi bila mendengar ceramah tak tahu apa yang dibicarakan, suara terlalu keras berdengung dan tak jelas. Saya tertidur sambil duduk dengan nyenyak. Artinya tetap berada di masjid, tapi tidak ada yang dapat didengar dengan baik, perhatian tidak terpusat sehingga tambahan pengetahuan tentang agama yang diharapkan diperoleh dari ceramah selama di masjid sedikit (bahkan tidak ada).

BANGUNAN MASJID DAN TATA SUARA

Bangunan Masjid

Masjid Salman berada di Jalan Ganesha. Saat pertama alamat sertetariat Ganesha 9, sekarang berubah Ganesha 7. Rancangan gambar Masjid dirancang oleh Kang Nu’man. Konstuksi beton oleh kang Luthfi dan Suhud. Listrik oleh Syafri Martinus, tata suara oleh Irwan Syarkawi dibantu Lizen dan Anang Ruchiat. Pelaksana pekerjaan bangunan oleh Udin, dan banyak lagi yang lain.

Masjid berbentuk persegi panjang (Hoesin), ukuran bangunan utama (dalam) 25 x 25 x 7 (m). Koridor 30 x 4 x 7 (m) sebanyak dua buah (kiri-kanan) dan koridor belakang 25 x 4 x 2.5 (m). Diding ruang utama terdiri dari kayu, kaca dan pintu lebar dari kayu jati. Tiang berbentuk kolom ukuran 0.4 x 0.6x 7 sebanyak 20 buah. Ruang shalat perempuan dilantai atas. Ruang utama masjid terdiri dari 20 shaf.

Setelah bagian dalam masjid selesai, dibuatlah oleh kang Nu’man dua lambang Salman, kemudian disuruh pilih satu diantaranya, itulah yang jadi Lambang Salman. Dulu huruf nun terbuka dan ada titik berbentuk bujur sangkar. Lambang itu kemudian menjadi logo Salman, ditempelkan pada kotak hitam di atas mimbar dengan warna emas di pojok bawah kanan.

Tata Suara

Pada awal perancangan Masjid Salman disepakati bahwa pengeras suara terintegrasi secara total di dalam masjid. Kotak di atas pedium (pada Mihrab) yang ditutup dengan kain hitam serat jarang, disepakati tempat pengeras suara. Jadi Kotak hitam merupakan sumber suara utama dengan pemikiran (konsep) bahwa suara itu datang dari Ka’bah. Pengeras suara lain pada ditempatkan di selasar (koridor) dikiri-kanan masjid.

Perancangan tatasuara digunakan rumus waktu dengung (rumus 1, 2, 3 dan 4) dan tingkat kekerasan suara (rumus 5 dan 6).

Dari data bangunan (dikutip dari makalah matakuliah Fisika Bangunan-Hoesin) didapat volume ruang utama (total) 10516.25 m3. Penyerapan total (termasuk penyerapan udara) 0.286. Penyerapan total + separoh jamaah 0.299, Penyerapan total + jamaah penuh (1500 orang) 0.322, Jarak bebas rata-rata 20.386 m.

Hasil perhitungan, pada keadaan kosong pintu terbuka waktu dengung T = 0.244 sec. Dalam jamaah setengah T = 0.299 sec dan jamaah penuh T = 0.212 sec. Waktu dengung ruangan dengan angka-angka itu terasa enak dan nyaman, artinya suara jelas ditangkap telinga.

Rancangan pengeras suara ditetapkan dengan ketentuan tekanan suara (60 – 70dB) di beberapa titik di lantai setinggi duduk di titik terjauh dari mihrab. Penetapan tekanan suara digunakan untuk memperkirakan tingkat tekanan (kekerasan) sumber suara (speaker).

Perkirakan tekanan suara sumber untuk dalam ruangan dihitung dengan rumus 5 dan 6. Perkirakan tekanan suara sumber untuk koridor dihitung menggunakan rumus 6 dengan tidak mwmasukkan waktu dengung [4 (w1+ w2)/R]. Tekanan suara hasil perhitungan menghasilkan kotak speaker kolom dengan susunan speaker seri dan parallel.

Hasil perhitungan menhasilkan bentuk pengeras suara seperti kotak persegi panjang (sebut pengeras suara kolom) tegak dan miring kedepan. Setiap kolom pengeras suara terdapat sejumlah pengeras suara (loudspeaker) dengan jumlah yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kuat suara yang dibutuhkan. Pada satu kotak pengeras suara kolom terdiri dari “speaker” dengan frekuensi rendah, menegah dan tinggi.

Kolom pengeras suara di dalam kotak hitam diarahkan ke lima tempat yaitu sisi depan kiri-kanan, kiri-kanan mengarah pojok ruangan dan tengah untuk bagian tengah sampai belakang. Susunan ini menghasilkan tekanan suara dekat merata didalam ruangan, dimanapun jamaah berada (tekanan suara dekat sama) dan enak didengar. Pada selasar (koridor) kotak pengeras suara bebertuk kolom. Denah dan potongan samping masjid dilengkapi penempatan pengeras suara lihat gambar 1.

Kenangan yang tak terlupakan adalah pada tanggal 5 Mei 1972, saat masjid pertama kali dipakai untuk Jum’at. Disinilah di uji perencanaan tatasuara yang dirancang terintegrasi dengan tatacahaya, tataudara dengan interior masjid dan kami pun puas. Alhamdulillah.

BEBERAPA CATATAN

Terdapat “enambelas” yang menarik pada rancangan Masjid Salman.

Pertama, atap melengkung keatas, melambangkan bulan sabit kata pengurus masjid.

Kedua, bagian depan masjid ber warna-warni tegak lurus yang dirancang kang Sadali.

Ketiga, kiri-kanan pada koridor dirancang berlubang bentuk segitiga untuk menghalangi hujan yang jatuh miring karena ditiup angin.

Keempat, tidak ada tiang dalam ruang utama masjid.

Kelima, kotak hitam di Mihrab di atas podium ditutup dengan kain hitam serat jarang. Kotak hitam melambangkan Ka’bah kata kang Nu’man dan kang Sadali.

Keenam, dinding dalam masjid polos, tidak ada kaligrafi.

Ketujuh, masjid dengan pintu lebar sehingga ruang sejuk (adem) dan lampu gantung tak terlihat jelas.

Kedelapan, pengeras suara tidak terlihat penempatannya.

Kesembilan, bangunan memanfaatkan penerangan alami sianghari dan aliran udara alamiah dengan pintu lebar dan sebagian dinding memakai kaca tembus pandang,

Kesepuluh, tidak terdapat hamparan sajadah panjang, shalat di lantai (kayu).

Kesebelas, mimbar kecil tidak menjorok kedepan, artinya tidak memotong shaf jama’ah saat shalat.

Keduabelas, di mihrab terdapat pintu untuk masuk keruang operator pengeras suara (sound system)

Kertigabelas, dikoridor kiri dan kanan terdapat pintu untuk masuk ke mihrab.

Ke empatbelas, pintu mihrab dan koridor digunakan imam atau penceramah bila masuk kedalam masjid sedangkan masjid telah terisi jama’ah.  Jadi imam dan penceramah menuju mihrab tidak melangkahi bahu jama’ah atau berjalan di depan shaf jama’ah.

Ke limabelas, pintu mihrab dan koridor juga digunakan imam dan penceramah ingin berwudu’ bila wudhu’nya batal atau ingin ke kamar kecil (toilet).

Ke enambelas, menara masjid tidak diletakkan diatas bangunan Masjid, tapi berdiri pada pondasi sendiri di samping depan masjid.

PENUTUP

Perencanaan tatasuara masjid yang baik adalah, bila perencanaan tata suara sejak dari awal bangunan dirancang/digambar, sehingga tidak terlihat secara mudah dimana pengeras suara ditempatkan. Waktu dengung kecil (dekat nol) dan tekanan suara enak didengar. Perhatian terpusat kepada khatib dimimbar saat khutbah atau penceramah.

Pengeras suara masjid Salman sering ditanyakan pengunjung (jamaah), dimana ya pengeras suara ditempatkan.

Kotak pengeras suara dibuat sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Rancangan kotak pengeras suara memberi pengalaman baru yang sangat berharga, karena tidak mengikuti bentuk pengeras suara yang disediakan pasar. Pengeras suara dirangkai sendiri sesuai dengan kebutuhan, berarti mempraktekkan teori yang didapat dan memperoleh ilmu/keterampilan merangkai pengeras.

Pada waktu itu (tahun 1972) tatasuara masjid Salman terbaik untuk masjid-masjid ukuran besar di Bandung mungkin juga sampai saat ini.

Di koridor dan ruangan dalam pada siang hari saat langit berawan sebagian penerang cukup untuk membaca, bahkan belajar (sendiri dan/atau berkelompok) saat menunggu atau sesudah shalat. Berarti tidak perlu penerangan buatan.

Aliran udara dalam bangunan berhembus lambat (adem), karena bangunan berpintu lebar, tidak perlu ada peralatan tambahan untuk mengerakkan udara.

Karena tidak diperlukan penerangan buatan dan alat penggerakkan udara, berarti rancangan bangunan hemat energi.

Satu ajakan kepada perancang banguan mesjid, ayo tunjukkan karya bangunan masjid yang nyaman dan hemat energi. Tunjukkan karya anda bahwa bukan dari sisi seni arsitektur saja, tapi menyeluruh termasuk tatasuara, tatacahaya, tataudara sehingga hemat energi. Artinya. 1) kotak pengeras suara tidak bergelantungan. 2) cahaya di siang hari mengutamakan cahaya almiah dan 3) aliran udara alamiah.

Perencanaan yang tak memperhatikan tatacahaya dan tataudara alamiah, maka energi untuk penerangan buatan dan tata udara buatan akan menjadi beban biaya (energi) seumur-umur masjid itu bagi pengelola.

Selamat berkarya arsitektur muslim untuk rumah ibadah (masjid) yang hemat energi dan tatasuara yang enak didengar (nyaman) dimanapun anda berada.

Bila telah selesai rancangan/membangun sebuah masjid, ayo adakan seminar rancangan masjid tersebut, supaya masyarakat umum dan arsitek yang lain mengetahui keunikan rancangan masjid anda, sekaligus membahas tatasuara, tata udara, pencahayaan dan penghematan energi yang dapat dilakukan atas rancangan tersebut. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Baca juga:
Riwayat Ringkas Tatasuara dan Akustik Masjid: Dimasa Nabi, Sahabat, Khalifah dan Sekarang http://lizenhs.wordpress.com/2014/07/30/riwayat-ringkas-tatasuara-dan-akustik-masjid-dimasa-nabi-sahabat-khalifah-dan-sekarang/
Fisika Banunan, Bangunan Apa Ituuu? http://lizenhs.wordpress.com/2011/11/26/fisika-bangunan-bangunan-apa-ituuu/
Masjid, Musajik, Surau, Mushalla, Langgar dan Meunasah, http://lizenhs.wordpress.com/2009/08/26/masjid-musajik-surau-mushalla-langgar-dan-meunasah/
Masjid Impian: Tempat Sarana Ibadah, Hemat Energi dan Belajar-mengajar  http://lizenhs.wordpress.com/2010/06/23/masjid-imimpian-tempat-sarana-ibadah-hemat-energi-dan-belajar-mengajar/
MASJID: FISIKA BANGUNAN, HEMAT ENERGI DAN TANPA PERCIKAN AIR, http://lizenhs.wordpress.com/2012/01/07/masjid-fisika-bangunan-hemat-energi-dan-tanpa-percikan-air/
Fisika Bangunan: TATA UDARA ALAMI, TATA CAHAYA ALAMI DAN TATA SUARA ALAMI  http://lizenhs.wordpress.com/2013/06/30/fisika-bangunan-tata-udara-alami-tata-cahaya-alami-dan-tata-suara-alami/

KEPUSTAKAAN

Beraneck, L. L. (1954). “Sound Saystem For Large Audutoriums”. The Journal of Accoustic Society of America. Vol 26, number 5 (661 – 675).

Berlian, Mustika (1964). “Perencanaan Perbaikan Akustik Aula Unpad”. Qolloqium/Penyelidikan Chusus. Fisika Teknik ITB.

Brochlenns Trampe (1971). “The Application of The Bruel & Kjaer Measuring System to Accoustic Noise Measurements”. Bruel & Kjaer. Seborg – Denmark.

Hoesin, Haslizen. (tanpa tahun), “Merencanakan Akustik Salman”. Makalah matakulian Fisika Bangunan (Akustik FT 434). Fisika Teknik-ITB.

Kinsler, lowrenc E. And Austine R Frey (1962). “Fondamentals of Accoustics” (second ed). New York, John Willey & Sons Inc.

Beberapa pustaka yang lain tidak ditampilkan.

About these ads

Responses

  1. Semoga blog ini banyak yg baca terutama para mengurus DKM yang saat ini kurang memiliki kepekaan sosial yg tinggi terhadap pengeras suara yg terlalu keras dan bising… dan penggunaaannya kurang tepat… pada saat larut malam pake pengeras suara yg berlebihan sehingga menggannggu kenyamanan istirahat malam.

    • terima kasih harapan anda. memang itulah harapan menulis Tatasuara ini.

  2. Assalamua’laikum wr.wb.
    Ykh.: Pengelola Blog.
    Saya sangat tertarik dengan artikel ini, sangat kebetulan sedang merencanakan
    upgrade tata suara di Masjid ukuran 20m x 20m, satu lantai. Bagaimana menata
    perlengkapan sehingga diperoleh suara yang baik.

    Terimakasih.

    R. Rudiawan

    • Alaikum salam Sahabat Rudiawan, apakah masjid anda itu berbetu segi empat. apakah ada domnya. kalau ada domenya mungkin waktu dengungnya besar. diketahui apakah bergema atau bergaung. Bila bergaung sebaiknya gunakan pengeras suara (loadspeaker) kecil-kecil bukan berbentuk kolom, yang berisi loudspeaker banyak. Bila ada ceramah atau khutbah pengeras suara di menara bila ada, jangan di nayalakan (di-on-kan). Pengeras suara kedcil-kecil itu dipasang di beberapa tempat tapi jangan mengarah kemihrab atau bila dipasang di dinding kiri kanan jangan mengarah ke dinding kiri kanan, mengarah menjauh mihrab, tujuannya supaya jangan terjadi pantulan suara yang menjadikan gaung. Kalau tidak ada dome dan tidak banyak tiang, pengeras suara berbentuk kolom letakkan diatas mihrab mengarah ke jamaah. Selamat mencoba.

  3. Maaf, sahabat Argo, Maksud anda barangkali ukuran 10mx10m. Masjid ini sebenarnya kecil, tak perlu pengeras suara. Tapi bila pemberi khutbah atau ceramah suaranya pelan tentu diperlukan.
    Pertama coba pengeras suara berbentuk kolom (Speaker column) isi tiga speaker atau dua buah sebaiknya memiliki frekuensi tinggi, menengah dan rendah. Pasang tegak lurus di atas ruang iman/khatib (mihrab), miring mengarah ke pojok kiri dan kanan bila dua speaker kolom. Bila tiga speaker kolom satu mengarah ketengah. Pada saat ceramah/khutbah atau uji coba atur volume penguat (amplifier) sampai enak didengar atau tidak terjadi feedback.
    Kedua, bila tetap kurang, tambah satu pengeras suara di dinding kiri-kanan mengarah kebelakang kira kira 5 m dari dididing mihrab masjid.
    Ketiga, kalau punya selasar pasang pula pengeras suara kolom di depan isi 3 atua 4.
    Keempat, pada saat ceramah pengeran suara di menara tidak di onkan (diperdengarkan). Agar hasil terbaik tentu dilakukan pengukuran. Selamat mencoba semoga berhasil.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: