Posted by: lizenhs | November 12, 2009

Sendi Dasar Koperasi Produksi

Sendi Dasar Koperasi Produksi

Oleh: Haslizen Hoesin

Berangkat dari, prinsip identitas ganda dan promosi anggota, dirumuskan sendi-sendi dasar koperasi produksi. Sendi-sendi dasar inilah yang menjelaskan dan mempertegas persamaan dan perbedaan antara koperasi produksi dengan koperasi jenis lain atau perusahaan pada umumnya, terutama tentang keanggotaan dan peran anggota dalam kegiatan menghasilkan produk. Sendi dasar ini pulalah yang membentuk budaya berkoperasi.
Pada koperasi produksi paling tidak ada 8 sendi dasar (Haslizen Hoesin, 2001) yang harus diterapkan: 1) Keanggotaan terpilih, 2) Spesialisasi dalam tugas dan produk yang dihasilkan, 3) Satu orang satu suara, 4) Kekuasaan tertinggi pada rapat anggota, 5) Organisasi ekonomi berwatak sosial, 6) Manajemen bertingkat, 7) Perusahaan koperasi bermotif maksimalisasi laba, 8) Menghindari resiko yang luar biasa. Paparan secara rinci adalah sebagai berikut.

Keanggotaan terpilih
Keanggotaan terbuka harus diartikan lain pada koperasi produksi,karena tidak siapa saja yang dapat menjadi anggota. Keanggotaan koperasi produksi harus orang-orang yang mempunyai keahlian dalam hal memproduksi produk pada proses produksi tertentu. Prinsip “keanggotaan terbuka” tidak dapat diterima sepenuhnya, oleh karena itu diartikan sebagai “terbuka bersyarat” dengan sebutan yang lebih cocok adalah “keanggotaan terpilih”. Ketentuan berikutnya adalah sukarela. Proses menjadi anggota dapat karena inisiatif sendiri ataupun ajakan teman/anggota, dengan demikian: (1) Keanggotaan terbatas pada orang-orang yang mempunyai keahlian yang sesuai dengan pengerjaan bagian-bagian produk/proses pembuatan produk (partisipasi). Ketentuan ini tentu harus demikian, karena setiap produk mempunyai tata cara sendiri dalam proses pembuatanya. Dengan demikian anggota/pekerja harus mempunyai keahlian khusus/spesialisasi. (2) Keanggotaan tidak perlu homogen secara mutlak, sekurang-kurangnya ada keterkaitan keahlian yang berbeda, berdasarkan peralatan yang digunakan. Keutamaan adalah ada satu tujuan hasil yaitu satu satuan produk. (3) Anggota baru harus dapat izin dari pengurus dan/atau rapat anggota dan memenuhi semua syarat untuk pendaftaran. Di samping itu harus ada anggota lama yang menjadi perantara/sponsor masuknya anggota baru. (4) Koperasi dengan anggota melakukan suatu perjanjian kerja dalam jangka waktu tertentu, sehingga tidak begitu saja berhenti/ keluar. Ini penting untuk menghindari permintaan yang tidak dapat dipenuhi akibat anggota keluar/memutuskan hubungan keanggotaan. (5) Keaggotaan tidak dapat dipindah-tangan. Andai kata keanggotaan dapat dipindah-pindah, dikhawatirkan lama kelamaan keanggotaan dapat diperjual belikan.Spesialisasi Dalam Tugas dan Barang yang DikerjakanAnggota koperasi produksi hendaknya mempunyai keahlian khusus/spesialisasi. Hal ini diperlukan dan akan memudahkan koperasi untuk mempertahankan usaha dan mutu produk yang dihasilkan.
Koperasi dapat saja menghasilkan lebih dari satu produk, tentu saja harus sesuai dengan keahlian anggota dan kemampuan untuk mengerjakannya dan tidak menyimpang dari produk inti, dengan demikian: (1) Koperasi membatasi usaha, yaitu menangani satu atau beberapa produk yang pengerjaannya tidak menyimpang/keluar dari keahlian anggota. Dengan demikian, jelas spesialisasi ditekankan sekali. (2) Dalam mengerjakan pekerjaan, masing-masing anggota baik dalam kelompok keahlian maupun keterkaitan proses yang satu dengan yang lain harus melakukan pembagian kerja sedemikian rupa sehingga prinsip efisiensi dan efektifitas dapat dilaksanakan. (3) Bila koperasi sudah berkembang, tentu spesialisasi-spesialisasi lain dibutuhkan, ini merupakan upaya koperasi mengembangkan usaha koperasi. (4) Tidak ada pemberian perlakuan intimewa pada satu anggota terhadap anggota lain.

Satu Orang Satu Suara
Koperasi bersifat demokrasi, ditujukkan dengan satu orang satu suara. Pada koperasi produsen penentuan organisasi senenarnya pada anggota. Pencerminan kekuatan koperasi pada anggota diperlihatkan
dalam bentuk pendelegasian wewanang anggota pada pengurus mengenai kelangsungan organisasi. Kesetiaan pada semua kegiatan usaha yang diselenggarakan koperasi berdasarkan kesepakatan rapat anggota dalam upaya kelangsungan dan peningkatan usaha, dengan demikian: (1) Setiap anggota mempunyai hak yang sama dalam menjalankan usaha, (2) Prinsip demokrasi benar-benar dilaksanakan dengan semangat toleransi. Toleransi adalah syarat hidup bagi demokrasi, (3) Bersedia menerima pendapat terbanyak walaupun ada beberapa bagian hasil keputusan rapat yang tidak dapat disetujui sepenuhnya. (4) Menjalankan hasil keputusan rapat dengan semangat kerja sama dan dalam suasana persaudaraan.

Kekuasaan Tertinggi Pada Rapat Anggota
Pada koperasi produksi anggota adalah unsur manajemen, ini disebabkan karena koperasi milik anggota. Anggota berhak ikut menetapkan atau memutuskan segala sesuatu untuk kepentingan koperasi. Kebijakan koperasi dan keputusan-keputusan penting ditetapkan oleh anggota (pada Rapat Anggota), artinya keputusan tertinggi pada Rapat Anggota (RA). Pengurus merupakan unsur manajemen. Sebagai wakil anggota, pengurus mengukuhkan ketetapkan yang telah ditetapkan dalam rapat anggota. Keputusan yang berisfat kebijaksanaan oganisasi ada ditangan pengurus, sedangkan manejer sebagai unsur tim manajemen khusus pada keputusan-keputusan di bidang usaha. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan kekuasan tertinggi pada rapat anggota itu adalah. (1) Keaktifan anggota dalam mengemukakan ide yang dapat diterima anggota dan dapat dilaksanakan. (2) Keterbukaan pengurus dalam menjelaskan kegiatan koperasi yang lalu berkenaan dangan masalah yang dihadapi dan program yang akan dilaksanakan kedepan. (3) Kesiapan pengurun menjalankan semua kegiatan yang telah disepakati dalam rapat anggota. (4) Kesiapan pengurus menerima kritikan dan saran dari anggota secara lapang dada, bersedia diperiksa bila terjadi penyalah gunaan wewenang yang diberikan dan bersedia mempertanggung jawabkan kegiatan selama perioda kepengurusan. (5) Kesiapan anggota menerima keputusan hasil rapat walaupun tidak semua gagasan dapat ditulis pada program kedepan.

Organisasi Ekonomi/Manufaktur Berwatak Sosial
Bila dilihat model organisasi koperasi produksi adalah suatu sistem organisasi usaha koperasi manufaktur yang menenerapkan, 1) prinsip masukan, keluaran dan unpan balik, 2) prinsip-prinsip efisiensi, efektifitas dan produktivitas, 3) menerapkan prinsip manajemen mutu terpadu, 4) produk yang dihasilkan anggota diberi label/logo oleh koperasi. Keempat prinsip tersebut, adalah pelaksanaan dari prinsip ekonomi/manufaktur. Jadi koperasi jelas bukan organisasi sosial tempat meminta sumbangan.
Dalam menjalankan kegiatan proses produksi, masyarakat (anggota) yang tergabung dalam koperasi produksi saling mengingatkan, saling menunjukan bagaimana pembuat produk yang baik dan bermutu atau tunjuk-menunjuki untuk mencapai perbaikan nilai produk, mempertinggi mutu barang yang dihasilkan. Orang (anggota) pada koperasi produksi bukan inidividu-individu yang saling menjalahkan anggota lain dalam menghasilkan barang, tapi bersatu, bekerja sama, saling memberi tahu, saling bahu-membahu dalam memproduksi barang. Sebab bila seorang anggota menghasilkan barang yang buruk dengan memakai label/logo koperasi, semua anggota akan menerima akibatnya, karena mereka da-lam sistem. Jadi seorang anggota bukan memperhatikan kepentingan sendiri tapi memperhatikan anggota lain. Perusahaan koperasi memper-hatikan kepentingan anggota dan sebaliknya. Model jelas sekali mem-perlihatkan bahwa koperasi produksi dalam kegiatan usaha melaksa-nakan kosep manajemen mutu terpadu dan prinsip efisiensi dan efek-tifitas bermoral. Prinsip yang dijelaskan di atas adalah orang-orang (anggota) yang bergabung dalam koperasi berwatak sosial.
Jadi koperasi produksi adalah organisasi ekonomi/manufaktur yang berwatak sosial.
Kalimat pernyataan itu harus dipahami betul, bahwa organisasi koperasi 100% organisasi ekonomi/manufaktur, karena prinsip prinsip ekonomi dilaksanakan. Orang-orang (anggota) berwatak sosial karena merupakan suatu masyarakat (dalam sistem koperasi) yang saling bahu-membahu, bekerja sama, saling mengingatkan dan tunjuk-menunjuki dalam menjalankan kegiatan usaha. Bila watak sosial orang-orangnya (anggota) hilang maka koperasi tidak dapat lagi disebut koperasi, berubah menjadi organisasi usaha pada umumnya dimana anggota adalah buruh perusahaan yang memakai label koperasi. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan organisasi ekonomi berwatak sosial sebagai berikut: (1`) Menggunakan penghematan dalam pengadaan bahan dengan melaksanakan pengambilan bahahan kesumbernya, (2) Menggunakan penghematan dalam pengiriman barang langsung kepengecer (memperpendek saluran distribusi), (3) Perdagangan berlaku jujur, artinya timbangan harus tepat, mutu harus baik (4) Antar anggota saling mengingatkan dan tunjuk-menunjuki tentang proses produksi dan meningkatan mutu produk, (5) Para anggota menerapkan kerja sama dan mempunyai watak saling tolong-menolong, dan saling mengigatkan, (6) kesetiaan pada semua kegiatan usaha yang diselenggarakan koperasi berdasarkan kesepakatan rapat anggota dalam upaya kelangsungan usaha dan pengembangan usaha.

Manajemen Bertingkat
Satu dari dari beberapa fungsi penting dari manajemen adalah membuat keputusan. Menurut definsi, yang dimaksud dengan manajemen dalam organisasi adalah orang atau sekelompok orang yang mengambil keputusan organisasi. Untuk itu orang yang menentukan keputusan pada koperasi disebut manajemen. Dalam menyelenggarakan organisasi, pada koperasi terdapat beberapa unsur yaitu anggota, pengurus dan manejer. Manajemen yang dilakukan dengan demikian disebut tim manajemen. Keadaan seperti inilah yang tidak ditemukan pada PT dan CV atau usaha yang lain.Pada organisasi koperasi produksi anggota merupakan unsur manajemen. Kebijakan dan keputusan-keputusan penting koperasi ditetapkan oleh anggota dalam rapat anggota. Pengurus merupakan unsur manajemen sebagai wakil anggota dalam menjalankan ketetapan dan rapat anggota. Keputusan yang bersifat kebijaksanaan organisasi ada ditangan pengurus, sedangkan manejer sebagai unsur tim manajemen mengambil keputusan dalam menjalankan usaha. Jelaslah bahwa anggota menetapkan kebijakan umum koperasi, pengurus memutuskan hal-hal yang berkaitan kebijakan koperasi dan manejer dalam usaha.
Pada koperasi produksi ada dua kategori manajemen, yaitu manajemen utama (puncak) dan menengah. Bila koperasi berkembang kategori ini dapat diubah. Yang termasuk kategori manajemen utama adalah Rapat Anggota, Pengurus dan (mungkin) Manejer Umum. Fungsi pokok menejemen utama yaitu mengendalikan organisasi secara keseluruhan, menetapkan tujuan organisasi, menetapkan strategi dan menetapkan kebijakan. Yang termasuk kategori manajemen menengah adalah menejer, manejer suatu unit (stasiun kerja). Manajemen menengah mempunyai tanggung jawab manajemen: mengimplementasikan kebijakan dan rencana yang ditetapkan manajemen utama, yaitu supervisi, mengkoordinasi kegiatan-kegiatan tingkat bawah.
Para anggota harus mengembangkan “budaya kerja”, “prinsip pemasok dan pelanggan” kosep manajemen mutu terpadu dalam menjalankan kegiatan berproduksi.
Hal-hal yang mendukung prinsip manajemen koperasi produsen adalah: (1) Keterbukaan manajemen dalam melaksanakan kegiatan organisasi. (2) Kesiapan dan kesungguhan manjalankan manajemen tim, karena manajemen tim sangat berbeda dengan manajemen perusahan pada umumnya. (3) Komunikasi manajemen utama dengan menengah berjalan dengan baik, terutama keterkaitan menjalankan kegiatan perusahaan koperasi dengan kegiatan anggota pada stasiun kerja.

Bermotif Maksimalisasi Laba/Keuntungan
Perusahaan koperasi produksi mengenal maksimalisasi laba dan SHU (jadi berbeda dengan koperasi lain). Koperasi produksi harus berpikir maksimalisasi laba. Perusahaan koperasi produksi diharapkan dapat mengambil keputusan dengan cara mengkombinasikan faktor-faktor produksi sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh efisiensi ekono-mis, efisiensi dan efektifitas kerja, bukan menerapkan efisiensi tenaga kerja dalam hal gaji/upah, dan laba yang maksimal.
Pengertian laba disini bukan SHU, dengan demikian diperlukan rumusan mengenai SHU pada koperasi produksi karena anggota adalah pekerja pada perusahaan sendiri yaitu koperasi. Tindakan/perlakuan efisiensi pada koperasi produksi adalah efesiensi yang bermoral, yaitu ti-dak memasukkan imbalan (gaji) pekerja (anggota) sebagai komponen/ faktor biaya variabel produksi. Bila prinsip efisiensi yang dipakai dengan memasukkan biaya (gaji) pekerja (anggota) sebagai komponen/ faktor biaya variabel, maka efisiensi itu pada umumnya diartikan adalah menekan biaya/gaji tenaga kerja (biaya variabel) untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Ini berarti mengorbankan/memeras anggota demi keuntungan perusahaan koperasi.
Perlakuan seperti itu bertentangan dengan tujuan membentuk koperasi, yaitu untuk meningkatkan pendapatan (kesejahteraan anggota). Oleh karena itu gaji pada koperasi produksi dapat ditetapkan dengan cara, a) berdasarkan targat keuntungan minimal yang diperkirakan dapat dicapai, setelah diperhitungkan dana cadangan untuk mengatasi segala kemungkinan yang akan terjadi dan pengembangan usaha. b) berdasarkan bagi hasil sesuai dengan kontribusi anggota, setelah diperhitungkan dana cadangan dan pengembangan usaha. c) berdasarkan gabungan antara gaji tetap (berdasarkan ketentuan tertentu) dengan bagi hasil sesuai dengan kontribusi anggota setelah diperhitungkan dana cadangan pengembangan usaha.Jika berbicara tentang peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja anggota, harus datang dari diri anggota itu sendiri, ini pulalah yang menumbuhkan budaya berkoperasi.
Dari gagasan di atas memaksimalkan laba atau SHU bukan dengan cara menekan gaji pekerja (anggota) serendah mungkin. Cara yang bijaksana adalah dengan meningkatkan efesiensi waktu bermoral dan efektifitas kerja, meningkatkan mutu produk (diantaranya dengan menggunakan konsep rekayasa nilai) sesuai dengan keinginan konsumen sehingga produk dihasilkan tepat waktu dan tidak ada (sesedikit mungkin) yang ditolak. Efesiensi biaya pengadaan bahan baku dan pemasaran dilakukan sedemikian rupa, yang bertujuan untuk pemupukan modal dan/ atau meningkatkan SHU.
Jadi: a) bila maksimalisasi laba atau SHU dilakukan dengan cara memasukan gaji pekerja/anggota sebagai komponen variabel produksi, maka koperasi sama saja dengan perusahaan pada umumnya. b) terlihat sekali perbedaan perlakuan untuk memperoleh maksimalisasi laba dan SHU antara koperasi produksi dengan perusahan manufaktur.

Menghindari Resiko yang Luar Biasa
Resiko yang dihadapi koperasi produksi, sama saja dengan yang dialami perusahaan bukan koperasi (perusahaan umum). Resiko itu antara lain turunnya harga jual, kebakaran, naiknya harga bahan baku, piutang yang tidak dapat dibayar.
Resiko besar akan berkibat koperasi tidak dapat mengatasinya atau bisa bankrut. Agar dapat mengatasi resiko besar beberapa alternatif adalah: (1) Mengurangi jumlah transaksi (menjadi sesedikit mungkin) dengan pihak luar, karena akan akan menambah biaya (pengeluaran). Caranya mengambil bahan baku kesumber utama dan menjual produk anggota kepada konsumen langsung atau koperasi konsumen/pengecer. (2) Mendirikan laboratorium penelitian, tugasnya meningkatkan mutu produk, mencari cara kerja yang baru dan pengembangan produk yang lebih unggul. (3) Menghimpun dana cadangan dari anggota dan sumber lain yang tidak mengikat. (4) Mengasuransikan semua bentuk-bentuk yang akan berakibat memberikan resiko besar.

Baca Juga:

Daftar Pustaka
Haslizen Hoesin, (2001). Model Koperasi Produsen dan Produksi. Makalah pada “Seminar Pengkajian Dosen IKOPIN”, diseleggarakan oleh P3EM–IKOPIN (Maret)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: