Posted by: lizenhs | November 11, 2009

Koperasi Produksi (Industri)

Koperasi Produksi (Industri)

Oleh: Haslizen Hoesin

Pendahuluan
Kenapa harus koperasi produksi. Kenapa harus sistem dan model. Kenapa koperasi selama ini selalu dipertentangkan/ diperdebatkan sebagai organisasi ekonomi berwatak sosial atau masih relevankah koperasi dinyatakan berwatak sosial. Kenapa sedikit yang membahas koperasi sebagai suatu sistem manufaktur. Apakah diperlukan prinsip identitas ganda pada koperasi produksi, atau tetap menggunakan konsep berwatak sosial, atau kenapa identitas ganda anggota selama ini belum banyak dibahas? Apakah koperasi produksi koperasi bentuk baru dari yang pernah ada? Apakah koperasi produksi suatu kegiatan ekonomi memaksimalkan keuntungan atau Sisa Hasil Usaha (SHU) atau hanya sebagai organisasi sosial yang mengharapkan bantuan orang lain atau tempat meminta sumbangan bagi kegiatan sosial lain? Apakah koperasi dapat dinyatakan sebagai sistem dan kemudian dimodelkan? Apakah koperasi dapat dibedakan sebagai koperasi produsen dan produksi?

Beberapa Pengertian
Belum banyak literatur yang membahas koperasi produksi secara khusus. Dari beberapa literature yang membahas koperasi yang berkaitan dengan produksi (Haslizen 2001) umumnya mengenai koperasi produktif yaitu: Z. A. Abidin dan Soejitno (1952), Teko (1954), Wiyanto dan Wehner (1973), Raka (1981), Book (1994), Kartasaputra, dkk. (1985), Burhan (1989), Harper (1991), Akpoghor (1993), Moh. Suryanegara (1995), Tim Penyusun (1996), dan Nasution (1999). Pembahasan mereka (Haslizen 2001) umumnya lebih menekankan mengenai pengertian dasar koperasi produktif, produksi dan produsen dan tidak tegasnya beda ketiganya. Pendekatan yang digunakan adalah ekonomi.
Pengertian lain mengenai koperasi produksi, yaitu yang dikemukakan Cockerton and Whyatt (1984), Mellor (1988) dan Oakeshott (1990), yaitu koperasi pekerja, mereka menjelaskan teori dan praktek koperasi pekerja di Eropa dan negara berkembang.
Bila organisasi koperasi yang dibahas, Seetharaman dan Mohana (1975) dalam Haslizen (2001) mengajukan satu model untuk mempelajari efektifitas koperasi sebagai kerangka normatif. Bila sebagai sistem Hanel (1992) menjatakan bahwa koperasi adalah suatu sistem ekonomi digerakan oleh sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama. Sistem koperasi yang dikemukakan Hanel tersebut sekarang dikenal dengan Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Ekonomi. Bila berkenaan dengan keanggotaan, Asnawi Hasan (1990c) membahas secara panjang lebar, terutama tentang makna keanggotaan, keanggotaan terbuka, keanggotaan sukarela dan keanggotaan yang bertanggungjawab. Agar koperasi menjadi kokoh, menurut E. D. Damanik (1980) diperlukan/dibutuhkan sendi-sendi dasar koperasi.
Berbeda dengan literatur-literatur di atas, Tim IKOPIN bekerja sama dengan Badan Logistik Indonesia melakukan penelitian pada Koperasi Produsen Tahu Tempe (KOPTI) Jawa Barat (1992). Hasil penelitian menyatakan, bahwa peran yang menonjol dari Kopti adalah pada pengadaan bahan baku kedele, meskipun itu terbatas pada penyaluran dari Bulog. Kopti sangat berpotensi untuk dikembangkan dan menghadapi banyak kendala.
Penelitian lain yang dilakukan Haslizen dkk (1994) pada Koperasi Perajin dan Pengusaha Jeans Parahiyangan (KP2JK) Bandung, hasil penelitian menyatakan bahwa produk yang dihasilkan dipasarkan anggota sendiri-sendiri. Harapan anggota, koperasi berperan dalam pengadaan bahan baku, informasi pasar dan memasarkan, tidak dapat dipenuhi.
Pemikiran berikut ini tentang pengembangan koperasi. Bebrapa orang mengajukan pendapatnya antara lain a) A. Aldy Anwar (1992: 77-78) menyatakan bahwa ada 4 (empat) pendekatan pengembangan yang dapat dilakukan, yaitu: induktif-empiris, deduktif-teoritis, reformatif semi-empiris dan inovatif-kreatif dengan pandangan jauh kedepan, b) Asnawi Hasan (1990) mengemukakan perlunya kode etik usaha koperasi sebagai suatu kerangka dasar yang penting harus dipahami dalam mengembangkan dan menjalankan organisasi koperasi, c) Asnawi Hasan dan Daman Prakash (1990) mengemukanan pentingnya pendidikan pada anggota dalam upaya mengembangkan koperasi, d) Munkner (1997 dan 2000) menyatakan bahwa, penting sekali manajemen dan administrasi koperasi sejak awal harus menjadi tanggungjawab para anggotanya dan orang-orang yang dipilih oleh mereka sendiri, memahami nilai nilai dasar koperasi dan promosi organisasi swadaya koperasi.Bila ditelaah lebih khusus buku, makalah dan hasil penelitian yang dikemukakan di atas, ternyata sedikit lagi orang membahas koperasi produksi. Apakan peninjauan itu: a) dari segi sistem, sistem produksi, manajemen operasional maupun manajemen mutu terpadu. b) dari nilai yang terkandung dalam tatanan, sistem dan proses produksi, dalam upaya peningkatan ekonomi rumah tangga/usaha anggota.
Mengapa demikian ? Penyebabnya antara lain karena: a) Pada literatur barat yang dikenal adalah koperasi produktif (Hanel), koperasi pekerja dan koperasi industri (Harper 1991), b) Dari pasal 16 dan 19 Undang-Undang R. I. no 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian muncul penafsiran mengenai koperasi produsen (Tim penyusun: 1996), sebelumnya tak pernah ada penafsiran seperti itu terhadap peraturan/undang-undang perkoperasin, c) Beberapa literatur (Umar Burhan, Wiryanto, Hanel, Harper Ropke dan Raka) koperasi produksi, produsen, produktif dan pekerja dibahas sedikit, bahkan ada yang mengartikan sama. Walaupun ada yang membedakan, perbedaannya tidak tegas, bahkan Abidin menyebut koperasi penghasil sebagai koperasi perindustrian, dan d) Perlu diketahui bahwa produktif yang berkembang adalah koperasi produsen, dan hanya berkembang di Indonesia, sedangkan koperasi prouksi masih belum ditemukan litaratur yang membahas konsepnya secara jelas, perlu pemikiran dan gagasan.Terdorong dari pernyataan, pertanyaan dan penyebab yang dikemukakan di atas, kemudian dari hasil studi literatur, rekomendasi beberapa penelitian yang dilakukan peneliti-peneliti IKOPIN dan penelitian mahasiswa (studi kasus “dipilih”) pada koperasi perajin, peternakan, Kopti, dan KUD, diperoleh temuan-temuan, ide-ide dan gagasan-gagasan. Dari temuan, ide dan gagasan itu muncul pemikiran dan gagasan pengembangan konsep koperasi, khususnya koperasi produksi. Pendekatan yang digunakan dalam perumusan koperasi produksi adalah konsep sistem, pemodelan, sistem produksi, manajemen operasional dan manajemen mutu terpadu. Rumusan yang dihasilkan adalah sistem dan model sket organisasi koperasi produksi, dan beberapa model matematis. Kesemua rumusan yang dihasilkan adalah suatu sumbangan pikiran awal, bertujuan untuk memperkaya pengertian tentang koperasi produksi.

Jenis Koperasi
Bila ditinjau dari sisi kehidupan, menurut Mannan (1993: 44, 54) ada dua hal yang mendasar, yaitu kegiatan konsumsi dan produksi (dari suatu sistem produktif ). Konsumsi adalah permintaan dan produktif adalah penyediaan. Produksi berarti menciptakan secara pisik sesuatu yang tidak ada. Dalam pengertian ahli ekonomi, yang dapat dikerjakan manusia hanyalah membuat barang-barang menjadi lebih berguna, disebut “dihasilkan”. Kegiatan (proses) sistem produktif (mengha-silkan) harus tercermin dari produk yang dihasilkan terhadap prinsip pokok produk yang dikonsumsi.
Berdasarkan pemikiran diatas dan pendapat para pakar koperasi, koperasi dapat dijeniskan dari beberapa hal, sangat tergantung pada sudut pandang. Pada makalah ini penjenisan koperasi dilihat dari dua hal yaitu: 1) menurut fungsi koperasi dan 2) menurut status anggota. Bila dirinci berdasarkan fungsi, koperasi dapat dibedakan diantaranya sebagai koperasi pemasaran, pengadaan/pembelian dan kredit. Bila dirinci menurut status anggota dapat dibedakan atas koperasi penghasil (produktif) dan konsumsi.
Koperasi penghasil menurut Abidin dan Soejitno (1952: 27) adalah koperasi yang “memajukan penghasilan, dilakukan dengan jalan:
1) bersama-sama membeli bahan yang diperlukan, 2) bersama-sama
menghasilkan barang dan 3) bersama-sama menjual barang yang telah
dihasilkan”. Menurut Hanel (1992: 48-49) dan Lindenthal (1994: 4-7), koperasi produktif adalah “koperasi yang melakukan hubungan kegiatan produksi bersama, dapat berupa: 1) Mencakup kegiatan produksi bersama dan konsumsi bersama, 2) Berorientasi pada kegiatan konsumsi bersama dan 3) Berorientasi pada kegiatan produksi bersama”.
Masalah utama koperasi produktif menurut Akpoghor (1993: 137 – 141) pada keanggotaan, atasan (majikan) dan pekerja, persoalan manejer dan pengawas, manajemen dan hubungan kerja. Peran pengurus menurut Hanel (1992: 49-50) juga menentukan keberhasilan koperasi, terutama dalam mempromosikan anggota. Pada koperasi produksi menurut Mohammad Hatta (1987: 131 ), “titik berat kerja sama terletak pada tunjuk-menunjuki untuk mencapai perbaikan nilai produksi, mempertinggi kualitas barang yang dihasilkan”.
Koperasi produktif (penghasil), bila ditinjau dari tempat kegiatan proses produksi dilakukan, dapat pula dibedakan atas: 1) kegiatan proses produksi utama pada anggota, disebut Koperasi Produsen dan 2) kegiatan proses produksi pada perusahaan koperasi disebut Koperasi Produksi.

Organisasi Koperasi Sebagai Sistem
Koperasi sebagai suatu organisasi, terdiri dari beberapa unsur yaitu: (1) Anggota dengan kegiatan ekonominya (rumah tangga), (2) kelompok anggota/kelompok koperasi, (3) pengurus/pengelola dan (4) perusahaan koperasi. Karena koperasi terdiri dari beberapa unsur, maka koperasi dapat dipandang sebagai sistem, yaitu sistem organisasi koperasi. Hanel (1992: 31) merumuskan organisasi koperasi, dikenal sebagai Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Ekonomi (The Cooperative Organization As a Sosio-Ecomonics System).
Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio Ekonomi yang dirumuskan maka dirumuskan unsur-unsur pembatas sistem koperasi. Batas sistem koprasi produksi, memperlihatkan: 1) Ada tiga unsur yang membentuk koperasi yaitu anggota, kelompok anggota/koperasi dan perusahaan koperasi. 2) Memperlihatkan bahwa pada koperasi terdapat kegiatan ekonomi anggota dan perusahaan koperasi. 3) Diperlihatkan pula hubungan antara perusahaan koperasi dengan ekonomi anggota dalam bentuk promosi anggota (yaitu mendahulukan kepentingan anggota) dan 4) Diperlihatkan pula prinsip identitas ganda (dual identity) anggota.

Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio Produksi
Koperasi produksi adalah system terbuka dengan lingkungan luar, berarti terdapat masukan dan keluaran. Masukan adalah factor-faktor produksi, dalam bahasa ekonomi disebut sumberdaya ekonomi. Keluaran adalah kesejahteraan anggota. Dalam bahasa produksi disebut dayaguna produk atau dalam bahasa ekonomi rumah tangga adalah daya beli dan/atau pendapatan anggota.
Karena koperasi dapat dipandang sebagai sistem, maka koperasi menggambarkan: (a) kegiatan perusahaan koperasi dan (b) kegiatan anggota (pekerja). Selain itu model menggambarkan promosi anggota, kepemilikan dan unpan balik. Secara keselutuhan disebut model Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Ekonomi.
Dari model koperasi produksi, dapat pula disusun model partisipasi dan pelayanan, model kesejahteraan anggota. Berikutnya dapat pula dirumuskan masukan-keluaran, efisiensi dan efektifitas koperasi.

Keanggotaan, Pekerja dan Identitas Ganda
Koperasi beranggotakan orang-orang yang memiliki keahlian tertentu. Bila ditinjau dari kegiatan produksi, kegiatan anggota adalah sebagai pekerja pada stasiun kerja atau unit kerja. Bila ditinjau dari keutamaan anggota, kegiatan koperasi adalah mempromosikan anggota. Bila ditinjau dari kepemilikan maka koperasi adalah milik anggota.

Sendi Dasar Koperasi Produksi
Berangkat dari, prinsip identitas ganda dan promosi anggota, dirumuskan sendi-sendi dasar koperasi produksi. Sendi-sendi dasar inilah yang menjelaskan dan mempertegas persamaan dan perbedaan antara koperasi produksi dengan koperasi jenis lain atau perusahaan pada umumnya, terutama tentang keanggotaan dan peran anggota dalam kegiatan menghasilkan produk. Sendi dasar ini pulalah yang membentuk budaya berkoperasi.
Pada koperasi produksi paling tidak ada 8 sendi dasar yang harus diterapkan: 1) Keanggotaan terpilih, 2) Spesialisasi dalam tugas dan produk yang dihasilkan, 3) Satu orang satu suara, 4) Kekuasaan tertinggi pada rapat anggota, 5) Organisasi ekonomi berwatak sosial, 6) Manajemen bertingkat, 7) Perusahaan koperasi bermotif maksimalisasi laba, 8) Menghindari resiko yang luar biasa.

Manajemen Operasi/Operasional
Karena koperasi adalah koperasi produksi, maka Manajemen Operasi/Operasional dapat diterapkan. Manajemen Operasional itu antara lain: (1) Masukan (input) dan keluaran (output), (2) Efisiensi dan efektifitas, (3) Pengendalian Mutu, Manajemen Mutu dan ISO, (4) Tataletak Peralatan dan Mesin, (5) Waktu Baku dan Proses Produksi, Dll.

Efisiensi dan Efektifitas
Banyak ukuran yang dapat dijadikan sebagai indikasi kemajuan suatu kegiatan organisasi. Karena pembahasan berikut ini mengenai sistem, maka yang digunakan sebagai ukuran adalah efisiensi, efektifitas dan produktivitas.
Efisiensi menurut Matthias Aroef (1986: 58) dapat dimengerti sebagai kehematan penggunaan sumber-sumber daya dalam suatu kegiatan organisasi. Tambah hemat suatu organisasi menggunakan sumber-sumber, semakin efisienlah organisasi itu. “Efisiensi dapat pula dinyatakan dalam bentuk perbandingan waktu baku (standar) terhadap waktu aktual” (Hradesky, 1988: 46-48). Kegiatan menggunakan sumber-sumber tadi sebanyak mungkin, berarti pekerjaan dilakukan dengan efektifitas yang tinggi. Perbandingan efektifitas dengan efesiensi memberikan pengertian baru yaitu produktifitas. Bentuk dari produktifitas (yang paling sederhana) adalah perbandingan keluaran dengan masukan.
Menurut Chapra (1992: 3–8) efisiensi tidak bisa didefinisikan tanpa dimasukkan penyaringan akhlak/moral (“efficiency can not even be definited without resort to a moral filter”) dan produktifitas adalah perbandingan antara kegunaan keluaran dengan total keluaran atau kegunaan keluaran dengan masukan.

Model Koperasi Produksi di Lapangan
Hasil pengatan di lapangan di Jawa Barat, model organisasi koperasi sebagai mana yang dimodelkan, yaitu model Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio-Produksi, ternyata tidak ada ditemui yang sesuai dengan model.

Penutup
Dari paparan diatas, pembaca telah dapat gambaran mengenai Koperasi Produksi. Silakan buat koperasi produksi, seningga dapat menyerap tenaga kerja baik di perkotaan maupun di pedesaan. Selamat mencoba, satu saat adakan pertemuan (seminar) tentang kegiatan pembentukan dan pelaksanaan kegiatan koperasi Produksi yang anda bentuk.

Baca Juga:

Sistem Keanggotaan Dan Identitas Ganda Koperasi Produks http://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/sistem-keanggotaan-dan-identitas-ganda-koperasi-produksi/

Model Partisipasi, Kesejahteraan dan Manfaat Koperasi Produksi http://lizenhs.wordpress.com/2009/11/11/model-partisipasi-kesejahteraan-dan-manfaat-koperasi-produksi/

Sendi Dasar Koperasi Produksi http://lizenhs.wordpress.com/2009/11/12/sendi-dasar-koperasi-produksi/

Pendidikan Koperasi: Jalan Panjang, Berliku, Naik dan Turun http://lizenhs.wordpress.com/2008/11/21/pendidikan-koperasi-jalan-panjang-berliku-naik-dan-turun/

Daftar Pustakaan
Aldy Anwar, (1992). “Ethos Koperasi Pemukiman Tepat Nilai”. Infokop (11) IX: 75-90. (Mei).
Akpoghar, Peter S., (1993), Selected Essays on Cooperative Theory and Practice, Marburg: Marburg Consult fur Selbsthilfetorderung.
Abidin. Z. A. dan Soejitno, (1952). Penuntun Koperasi. Jakarta: Jajasan Pendidikan Masyarakat.
Asnawi Hasan, (1990c). Pokok-Pokok Pikiran Tentang Keanggotaan Koperasi. Makalah disampaikan pada Seminar Perkoperasian yang diselengarakan oleh tim Nasional Pengkajian Koperasi. Jakarta: Departemen Koperasi (11 Januari).
Book, Sven Ake., (1994). Nilai-Nilai Koperasi Dalam Era Globalisasi. (alih bahasa Djabaruddin Djohan). Jakarta: KJAN.
Chapra, M. Umer, (1992). Islam and Economic Challenge. (Islam Economics Series No 17). Nairobi: The Islamics Foundation.
Cockerton, Peter and Anna Whyatt., (1984). The Workers Co-operative Handbook, London: ICOM.
Haslizen Hoesin, (2001). Model Koperasi Produsen dan Produksi. Makalah pada “Seminar Pengkajian Dosen IKOPIN”, diseleggarakan oleh P3EM–IKOPIN (Maret).
Hradesky, John L. (1988). Productivity and Quality Improvement: A PracticalGuide to implementing Statistical ProcessCotrol. Singapore: Mc Graw Hill, Book Co.
Lindenthal, Roland, (1994). Cooperatives and Employment in Developing Countries. Geneva: CD3/E, ILO.
Hatta, Mohammad (1987). Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun. Jakarta: Pt. Inti Idayu Pres.
Suryanegara, Moh. Yahya (1996). Perlukah Pendidikan Perkoperasian Seperti yang Dilaksanakan IKOPIN Dalam Usaha Menghilangkan Kelemahan Koperasi da-lam Bidang Sumber Daya Manusia. Makalah. Tidak ada catatan di mana di-sampaikan.
Lindenthal, Roland, (1994). Cooperatives and Employment in Developing Countries. Geneva: CD3/E, ILO.
Matthias Aroef, (1986). Pengukuran Produktivitas Kebutuhan Mendesak di Indone-sia. Prisma. 11. LP3ES : November.
Mannan, M. Abdul, (1993). Teori dan Praktek Ekonomi Islam. (Alih bahasa oleh M. Nastangin). Yokyakarta: Dana Bakti Wakaf.
Mellor, Mary, at all. (1984). Worker Cooperatives in Theori and Practice. Philadelphia: Open University Press.
Munkner, Hans H., (1997). Masa depan Koperasi, (alih bahasa Djabaruddin Djohan). Jakarta: Dekopin.
Peneliti Ikopin. (1992). Survey tentang Potensi & Kendala Kopti Dalam Upaya Pembinaan dan Pengembangannya di Jawa Barat, (laporan penelitian). Ikopin. Jatinangor.
Tim Penyusun, (1996). Memahami Seluk Beluk Perkoperasian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: TNP3K, Dept. Koperasi dan PPK.
Wiryanto Yomo dan Gunter Wehner., (1973). Membangun Masyarakat. Bandung: Alumni.
Sebagian yang lain dari daftar pustaka terpotong.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: