Posted by: lizenhs | September 2, 2009

Sendi Dasar Koperasi Produsen

Sendi Dasar Koperasi Produsen

Oleh : Haslizen Hoesin

Koperasi bukanlah hal yang baru di Indonesia, karena koperasi telah masuk keseluruh lapisan masyarakat. Jiwa koperasi telah ada sejak zaman dahulu. Koperasi telah dikenal masyarakat pedesaan dan perkotaan, pelajar, mahasiswa, pegawai negeri dan swasta, juga dikesatuan TNI. Koperasi dikenal dengan sebutan diantaranya adalah: KUD, Kopti, Kopinkra, Kopontren, Kopkar, Kopanti, Kopas, KKBM, KJA, Kobanter, Puskopad, Puskopau, Puskopal, Puskopol dll. Paparan berikut membahas berkenaan dengan sendi-sendi dasar koperasi produsen sedangkan berkenaan dengan dengan koperasi produsen itu sendiri dapat dibaca pada tulisan yang berjudul Koperasi Produsen: Apa Itu …….???   http://lizenhs.wordpress.com/2009/09/02/koperasi-produsen-apa-itu%E2%80%A6%E2%80%A6/

Sendi-sendi dasar koperasi produsen paling tidak ada 4 sendi yaitu 1) Keanggotaan terpilih, 2) Spesialisasi dalam pekerjaan/tugas, bahan baku atau produk yang dihasilkan, 3) Perusahaan koperasi tidak bermotif maksimalisasi laba/keuntungan dan 4) Menghindari resiko yang luas biasa. Paparan lebih rinci adalah sebagai berikut.

Keanggotaan Terpilih

Keanggotaan terbuka sebagai mana yang dikemukana sebagai sendi dasar koperasi pada umumnya harus diartikan lain pada koperasi produsen, karena tidak bisa siapa saja dapat menjadi anggota koperasi produsen. Misal: Koperasi produsen batu permata tidak dapat menerima perajin/produsen batu asahan atau produsen tahu/tempe atau peternak sapi sebagai anggota. Akan tetapi terbuka terhadap perajin/produsen batu permata. Jadi keanggotaan terbuka setelah memiliki syarat-syarat tertentu. Jadi prinsip “keanggotaan terbuka” lebih tepat diartikan “keanggotaan terpilih”, yaitu terbuka bagi orang-orang dengan kegiatan produsen yang sama. Proses menjadi anggota dapat karena inisiatif sendiri ataupun ajakan teman-teman/anggota

Pelaksanaan kigiatan yang mendukung prinsip keanggotaan koperasi terpilih antara lain; a) Kegiatan koperasi produsen, adalah pengadaan bahan baku dan/atau pemasaran dan/atau peralatan/sukucadang, b) Keanggotaan dapat dibatasi untuk daerah-daerah tertentu, demi efisiensi administrasi saja, c) Koperasi menyatakan komitmennya kepada anggota mengenai kesediaannya melakukan pelayanan secara efesien dan efektif, dan dengan perlakuan yang sama, d) Anggota baru harus dapat izin dari pengurus atau rapat anggota dan memenuhi syarat-syarat untuk pendaftaran. Harus ada anggota lama yang jadi perantara/sposor, e) Koperasi melakukan suatu perjanjian dengan anggota/calon, dianta-ranya mengetahui volume usaha yang dijalankan, jumlah kebutuhan dan mutu bahan baku, mutu produk yang akan disalurkan melalui koperasi. Sehingga koperasi terhindar dari tuntutan pihak luar bila ada kerjasama, f) Keanggotaan tidak dapat pindah tangan. Hal ini dikhawatirkan keanggotaan dapat diperjual belikan, g) Bila anggota akan melakukan perluasan usaha harus sepengetahuan dan mendapat izin dari rapat anggota, sebab akan berkibat pada jumlah produk dan persediaan bahan baku, kecuali perluasan itu tidak menggangu pelayanan kepada anggota yang lain, h) Bila perusahaan koperasi melakukan perluasan/pengembangan usaha harus mendapat izin dari rapat anggota, sebab harus terkait dengan kegiatan utama (core produk) anggota.

Spesialisi Dalam Tugas, Bahan Baku dan/atau Produk yang dihasilkan

Kegiatan perusahaan koperasi harus terkait dengan kegiatan usaha utama anggota (perajin/produsen). Ketentuan ini bertujuan untuk mempermudah koordinasi dalam pengelolaan pelayanan pada anggota. Koperasi produsen dengan produk yang beragam, apa lagi dengan bahan baku yang berbeda pula, nantinya akan mengalami kesulitan baik pelayanan untuk sarana produksi atau kegiatan pemasaran hasil/produksi dan tentu tidak akan efesien. Padahal tujuan utama para anggota berkoperasi adalah meningkatkan posisi tawar dan efisiensi. Pengertian efesien dalam arti yang sederhana adalah hemat.

Koperasi produsen jumlah keanggotaannya sebaiknya terbatas demikian juga wilayah kerjanya, bila terlalu luas tidak hanya mengalami kesulitan pada aspek-aspek teknis, juga pada aspek manajemen. Keadaan ini akan menimbulkan ketidak puasan, akan menurunkan kadar rasa memiliki dan melemahkan partisipasi anggota, lama kelamaan anggota meninggalkan koperasi. Bila hal ini terjadi, koperasi hanya akan beranggotakan beberapa orang saja, bahkan mungkin hanya pengurus saja dan bila koperasi tetap berjalan sifat koperasi berubah menjadi perusahaan pengurus atau pribadi. Tentu saja secara organisasi bukan lagi koperasi sebagaimana yang cita-citakan, karena telah berubah kepada perusahaan pribadi, meskipun pada akte tetap koperasi.

Beberapa cara untuk melaksanakan prinsip yang mendukung; spesialisasi tugas, pengadaan bahan baku dan menjual produk adalah sebagai berikut; 1) Koperasi membatasi usaha atau menangani beberapa janis barang saja, yang erat hubungannya dengan produk inti usaha anggota. 2) Koperasi melakukan pembagian kegiatan dan sekaligus koordinasi sehingga masing-masing anggota dapat menekan ongkos-ongkos produksi (efisien biaya) dan tepat waktu (on time), 3) Koperasi selain mengadakan bahan baku utama kegiatan utama, dapat juga mengadakan bahan penunjang, 4) Koperasi memberikan kepastian bahwa bahan baku yang yang disediakan sesuai dengan mutu dan jumlah yang diinginkan anggota, 5) Koperasi memberikan kepastian bahwa produk anggota dapat terjual dengan jumlah yang sesuai dengan kesepakan dan mutu produk yang diinginkan konsumen.Bila kelima butir tersebut tidak dapat dilakukan, koperasi yang dibentuk buka koperasi yang melayani dan mendukung kegiatan anggota.

Tidak Bermotif Maksimalisai Laba/Keuntungan

Menurut teori ekonomi elementer, menyatakan bahwa motivasi seorang produsen adalah maksimalisasi laba. Produsen harus berfikir mengkombinasikan faktor-faktor produksi seoptimal mungkin sehingga diperoleh laba maksimal.

Koperasi produsen bukanlah badan usaha bermotif demikian. Tujuan koperasi produsen adalah memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada anggota dan masyarakat. Dengan kata lain koperasi produsen bukan memaksimalkan laba atau Sisa Hasil Usaha (SHU), tetapi memaksimalkan pelayanan (harus diingat bahwa pengertian SHU tidak sama dengan laba pada koperasi). Namun koperasi tidak layak untuk merugi. SHU harus ada, sebagai cadangan dana atau cadangan pengembangan usaha dimasa mendatang. Pada koperasi produsen bahwa motivasi seorang produsen sebagaimana teori ekonomi elementer adalah maksimalisasi laba, itu terjadi pada anggota/perajin.

Prinsip tidak memaksimalkan SHU pada perusahaan koperasi direalisasikan dengan cara: 1) Maksimalkan atau mengefesienkan dan mengefektifkan pelayanan, 2) Menetapkan sasaran SHU.Sasaran SHU ditetapkan pada rapat anggota tahunan atau rapat ang-gota khusus. Besar kecil SHU disesuaikan dengan kamampuan koperasi dan rencana pengembangan. Setelah ditetapkan SHU, pelayanan kepada anggota dilakukan seefisien dan seefektif mungkin. Pada perusahaan anggota dilakukan pula prinsip efisiensi dan efektifitas, sehingga anggota akan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dan berakibat pada laba (akan besar) pada anggota. Dengan demikian akan terjadi dua kali peningkatan laba pada anggota, yaitu akibat efesiensi dan efektifitas pelayanan dari koperasi dan efesiensi dan efektifitas pada kegiatan usaha anggota. Bila prinsip efisiensi dan efektifitas pelayanan tidak dilaksanakan, berarti koperasi tidak dapat mengoptimal sumber daya yang dimiliki. Anggota akan meninggalkan koperasi dengan kata lain bubar. Bila koperasi tetap jalan maka sifat koperasi berubah menjadi perusahaan pengurus atau pribadi (pengurus).

Prinsip efisiensi dan efektif pada pelayanan, tidak memaksimalkan laba pada perusahaan koperasi, dapat diujutkan dengan beberapa cara, diantaranya: 1) Koperasi mempunyai unit pengadaan dengan menerapkan manajemen persediaan dan aktif mencari sumber bahan baku yang lebih murah dan 2) Koperasi mendirikan unit/pabrik pengolahan hasil produk anggota dan/atau pembuatan bahan baku dengan menerapkan mamajemen produksi.

Contoh dari unit yang dikelola koperasi untuk meningkatkan pelayanan kepada anggota adalah unit pengadaan/pabrik makanan ternak dan pengolahan susu pada koperasi produsen peternak sapi, mesin giling gabah dan persediaan pupuk pada koperasi produsen pertanian dll.Dari contoh diatas terlihat jelas tujuan utama unit usaha pada koperasi adalah untuk mengurangi biaya-biaya transaksi, meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan, memperpendek saluran distribusi. Bila prinsip tidak memaksimalkan SHU pada perusahaan koperasi dapat direalisasikan dan dilakukan, perekonomian di pedesaan akan meningkat, penduduk desa tidak akan pergi kekota. Bila orang pedesaan punya penghasilan yang cukup negara akan kuat, uang akan beredar di pedesaan, pengangguran akan sedikit, negara akan kuat dan tidak akan didikte oleh suatu kekuatan baik dari dalam maupun luar.

Menghidari Resiko yang Luar Bias

Koperasi produsen dapat dikatakan badan usaha yang tidak luput dari resiko, baik kecil maupun basar sebagai konsekuensi logis dari kegiatan usahanya. Resiko itu antara lain turunnya harga jual, kebakaran, harga bahan baku naik, utang yang tidak dapat dibayar dan lain-lain. Resiko besar berakibat koperasi bankrut atau macet. Hal ini dapat dihindari antara lain dengan cara: 1) Mengatasi semua resiko dengan mengingat bahwa koperasi adalah milik anggota, jadi anggota berpartisipasi menanggulanginya, 2) Mendirikan unit-unit usaha yang dibiayai oleh koperasi. Unit unit itu bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada anggota seefisien dan seefektif mungkin. Dengan cara ini, resiko dapat diperkecil atau dibagi rata kepada semua anggota, 3) Mendirikan laboratorium penelitian yang tugasnya antara lain, meneliti cara meningkatan mutu produk, cara mengefesienkan proses produksi.

Itulah sendi-sendi dasar koperasi produsen yang harus bahkan wajib dilaksanakan bila usaha disebut koperasi produsen. Selamat mencoba mendirikan dan melaksanakan usaha berkoperasi Produsen.

Bacas Juga:
Koperasi Produsen: Apa Itu ……???  http://lizenhs.wordpress.com/2009/09/02/koperasi-produsen-apa-itu%E2%80%A6%E2%80%A6/
Pendidikan Koperasi: Jalan panjang, berliku, Naik dan Turun  http://lizenhs.wordpress.com/2008/11/21/pendidikan-koperasi-jalan-panjang-berliku-naik-dan-turun/
Model Organisasi Koperasi Sebagai Sistem Sosio Produsen  http://lizenhs.wordpress.com/2009/12/08/model-organisasi-koperasi-sebagai-sistem-sosio-produsen/

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: